Rabu, 28 Mei 2014

sastra diaspora

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Membahas dan menelaah sastra yakni seperti mengkaji alam semesta dan peradaban dunia, secara definitif sastra dimaknai suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. (Rene Wellek dan Austin Warren,  1989: 3). Begitu juga bila kita mengkaji mengenai sastra pada masa modern akan sangat jauh berbeda dengan sastra pada masa sebelumnya. Melihat berbagai faktor dan karakter yang melingkupinya. Itu terbukti ada banyaknya sastrawan Arab yang bermigrasi atau berdiaspora ke berbagai negara, terutama ke negara-negara Barat untuk menghasilkan karya-karya sastranya.
Ada banyak sekali perbedaan bila kita kaji secara mendalam mengenai karya-karyanya, karena sastra diapora adalah percampuran antara konsep sastra Arab dengan sastra Barat yang ini dapat diketahui dari karya-karya yang dihasilkan, seperti karya-karya beberapa sastrawan Arab migran dan keturunannya semisal Khalil Gibran yang terkadang mengekspresikan karya sastranya dengan bahasa Inggris, sehingga berimplikasi pada keragaman model pendekatan kritik sastra yang digunakannya dalam mengkaji suatu karya sastra[1].
Oleh karena itu akan menarik sekali bila kita kaji dan bahas secara mendalam tentang pengertian sastra diaspora, apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya sastra diaspora, bagaimana karakteristik karya sastra diaspora, yang kemudian nanti kita dapat mengetahui dan memahami sejarah perkembangan sastra diaspora secara utuh dan komprehensif.




1.2  Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan dibahas dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Apa pengertian Adab al-Mahjar (sastra diaspora)?
2.    Apa faktor-faktor penyebab terjadinya Adab al-Mahjar (sastra diaspora)?
3.    Apa saja sarana-sarana pengembangan dan karakteristik karya Adab al-Mahjar (sastra diaspora)?

1.3  Tujuan Pembahasan

Adapun tujuan penulisan makalah ini dapat kita bagi dalam dua tujuan besar yaitu Main Purpose (tujuan umum) dan Special Purpose (tujuan khusus). Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami dengan seksama mengenai pengertian sastra diaspora, perkembangan sastra diaspora, sarana pengembangan sastra Arab diaspora dan bagaimana karakteristiknya, sehingga nantinya dapat dijadikan referensi untuk berfikir secara logis serta dapat mengambil kesimpulan dengan obyektif. Sedangkan tujuan khusus dari penulisan malakah ini adalah sebagai berikut:
1.    Pembaca dapat mengetahui dan memahami pengertian Adab al-Mahjar (sastra diaspora).
2.    Pembaca dapat mengetahui dan memahami faktor-faktor penyebab terjadinya Adab al-Mahjar (sastra diaspora).
3.    Pembaca dapat mengetahui dan memahami sarana-sarana pengembangan dan karakteristik karya Adab al-Mahjar (sastra diaspora).









BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora) dan Perkembangannya
            Kata diaspora sebenarnya diambil dari peristilahan tentang orangorang etnis manapun yang berpindah tempat atau meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka, atau penyebaran mereka di berbagai bagian lain di dunia dan perkembangan yang dihasilkan dari penyebaran dan budaya mereka. Hal ini tidak terjadi bagi bangsa Arab saja, tetapi bahkan peristilahan ini pada mulanya diperuntukkan oleh orangorang Yunani yang bermigrasi ke wilayah jajahan tertentu dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan[2].
Dan juga, peristilahan itu diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi yang berada dalam perantauan. Seperti dalam kamus Easy Lingo Dictionary kata diaspora dimaknai:
1). Diaspora atau penyebaran suatu bangsa dan mereka menetap di negara lain,
2). Orang Yahudi yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
            Begitu pula dalam (Hans Wehr, 1974: 1019), kata mahjar artinya: place of emigration, yaitu tempat emigrasi. Dari sini ini, dapat dikatakan bahwa mahjar berkaitan dengan tempat domisili perantauan bagi orangorang yang bermigrasi. Kata tersebut bila dikaitkan dengan kata adab mahjar berarti merupakan karya sastra rantauan orang Arab atau orang Arab imigran yang berada di negara non Arab yang kemudian menciptakan karya sastra.
Dalam histori adab araby, sebenarnya sebutan adab al-mahjar adalah dinisbatkan kepada orang-orang Arab Syam (Syiria) termasuk Libanon yang bermigrasi ke Amerika yaitu Amerika Serikat maupun Amerika Selatan pada sekitar tahun 1913 M dan kemudian menetap di negara benua tersebut yaitu di Boston, New York, dan di Sau Paolo Brazil. (Abidin, 2001: 253).
Sekilas tentang peristilahan mahjar yang terambil dari kata hajara berarti adalah orangorang Arab yang berpindah tempat menempati tempatbaru di luar negara Arab (negara yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai alat penuturnya). Di dalam keterasingan dan kerinduan terhadap tanah airnya, pengalaman kelam dan pengaruh eksternal lainnya, mereka menciptakan karya sastra yang mempunyai karakteristik baru dari karya sastra arab klasik.
Boosahda (dalam Atho’illah, 2008: 203) menjelaskan bahwa puncak imigrasi orang Arab dari  ke wilayah Amerika terjadi mulai tahun 1880-1920 an. Kebanyakan dari mereka berusia mulai dari kanak-kanak hingga tiga puluh lima tahun. Selain itu, mereka datang dari berbagai macam profesi, dari mulai pedagang, montir, petani, penulis dan ada juga yang pergi dengan berbekal spekulasi.

2.2 Faktor -Faktor Penyebab Terjadinya Adab al-Mahjar (Diaspora)
            Peristiwa perpindahan penduduk atau suatu bangsa tertentu pasti ada faktor yang melatarbelakanginya, baik itu secara ekonomi, politik atau kultural, bahkan karena bencana alam. Seperti halnya menyebarnya etnik Yahudi sebelum terbentuknya negara Israel pada tahun 1948, mereka menempati di beberapa negara benua Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris dan lain-lain, juga di Amerika, dan beberapa negara Arab. Hal ini lebih disebabkan pada saat itu etnik tersebut belum mempunyai negara untuk bersatu, bahkan banyaknya kasus ras dan diskriminasi menyebabkan mereka bermigrasi mencari tempat perlindungan yang aman, dan tempat untuk memenuhi kebutuhan.
            Sastra diaspora pada hakikatnya terjadi karena beberapa faktor, diantaranya yaitu:
  1. Beberapa bangsa Afghanistan yang meninggalkan negara mereka sepanjang abad ke-20 karena perang saudara yang berkepanjangan.
  2. Migrasi beberapa orang Palestina karena perang bangsa Arab dan Israel sejak tahun 1948.
  3. Diaspora orang-orang Indonesia khususnya orang suku Jawa yang dibawa oleh Belanda ke Suriname sebagai pekerja perkebunan Belanda.
  4. Diaspora orang-orang Tionghoa dan beberapa bangsa lain di negara negara Asia Tenggara, Eropa bahkan Amerika.
  5. Diaspora orang-orang Arab dan kini menetap di Australia, beberapa negara Eropa Barat dan Amerika (baik Utara maupun Selatan).
  6. Membebaskan diri dari tekanan politik.
  7. Berkomunikasi dengan para misionaris yang memberikan harapan baru dalam kehidupan.
  8. Mencari penghidupan yang lebih baik.
  9. Kecenderungan penduduk Arab Syam (Syiria) yang suka bermigrasi.[3]
10.  Bangsa Chechen yang meninggalkan Chechnya pada akhir abad ke 20 karena pemberontakan.
11.  Diaspora Afrika Selatan terutama tradisi para imigran Afrika selatan, khususnya warga kulit putih berbahasa Afrika yang meninggalkan negaranya karena sejumlah alasan. Ada pula kelas menengah kulit hitam yang bertambah di Afrika Selatan, banyak diantaranya juga mulai berimigrasi, hingga menambahkan beban demografi warga Afrika Selatan di luar negeri. Warga Afrika selatan umumnya menetap di Britania Raya, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru dan Kanada.
12.  Diaspora bangsa Tibet yang di mulai pada tahun 1959 ketika Tiongkok menyerang dan mengusir rakyat Tibet.

Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa faktor penyebab terjadinya sangat beragam, dilihat dari berbagai aspek yang menyebabkan mengapa para sastrawaan bermigrasi atau berdiasopora ke berbagai tempat atas dasar mempertahankan diri, mencari kehidupan yang lebih baik, dan faktor-faktor yang lain.
Selain itu juga, sastrawan diaspora juga ingin karya-karyanya tidak hanya dinikmati di negeri sendiri, yakni di kalangan Arab saja. Tapi ingin mempublikasikan karyanya agar dinikmati dan diapresiasi di kancah internasional, terutama di kalangan dunia Barat, seperti Eropa dan Amerika.



2.3. Sarana Pengembangan dan Karakteristik Karya Sastra Adab al-Mahjar (Sastra  Diaspora)
2.3.1 Sarana Pengembangan Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora)
                        Orang-orang Arab berusaha untuk selalu mengenang negeri, budaya, dan    bahasanya melalui karya sastranya. Dengan latar belakang pengalaman sosial,             spiritual dan    tercampurnya budaya timur dan budaya barat mereka mempunyai rasa             tersendiri dalam menciptakan karyanya walaupun komunitas terbatas di negara             rantauan. Momentum berbesar setelah Perang Dunia I adalah munculnya kelompok-          kelompok sastrawan diantaranya. (Atho’illah, 2008: 214).
                  Beberapa sarana pengembangan sastra Adab al-Mahjar, diantaranya yaitu:
1.      Karena mereka berada dalam komunitas yang terbatas di negara rantauan dan juga sulitnya karya sastra mereka terpublikasi maka mereka membentuk beberapa organisasi jurnalistik sebagai media yang mewadahinya seperti:
a.       Al-Rabithah al-Qolamiyah dan Jami’ah al-Adab al-Araby dibentuk pada tahun 1920, berpusat di Amerika Utara. Kelompok ini terbentuk tahun 1920 di New York yang dipelopori oleh Gibran Kahlil Gibran. Mereka mempunyai tujuan untuk mengkonstribusikan dalam pembaharuan karya sastra bagi imigran Arab di Amerika Utara. Sastrawan dalam kelompok ini diantaranya adalah Kahlil Gibran, Mikhail Naimy, Elia Abu Madi, Nasib ‘Arib, Amin Al-Rihani, Rasyid Ayyub, dan Ilyas ‘Attallah. Para sastrawan tersebut menerbitkan karya satra mereka di majalah “al-Sa’ih” yang terbit           setiap tahun. Abidin (2001: 254) mengatakan selain itu juga ada kelompok lain bernama “Jami’ah al-Adab al-Araby’’.
b.      Al-Ushbah al-Andalusiah, dibentuk sejak tahun 1933 yang berada di Sao Paolo Brazil (diaspora Arab di Amerika Selatan). Kelompok ini terbentuk tahun 1933 di Sao Paolo Brazil yang dipelopori oleh Syukrullah al-Jarr. Mereka cenderung melestarikan sastra Arab dengan mempertimbangkan aspek diksi dan penggunakan bahasa sesuai kaidahnya. Sastrawan dalam kelompok ini diantaranya Syukrullah al-Jarr, Mikhail al-Ma’luf, Rasyid al-Khuri, Ilyas Farhat dan Najib Ya’kub. Kelompok ini telah menerbitkan majalah yang terkenal dengan nama Majallah al-‘Usbah (Abidin, 2001: 254).


2.3.2        Karakteristik Karya Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora)
            Karakteristik sastra Arab al-Mahjar tidak terlepas dari pengaruh pengalaman hidup para sastrawannya baik secara politis, religius, sosiologis bahkan psikologis yang banyak mempengaruhi karya sastra arab diapora. Diantaranya faktor-faktor yang mempengaruhi dan merupakan suatu realitas yang dialami mereka, yaitu:
a.    Budaya timur dengan berbagai tradisi, kebiasaan, pandangan hidup dan obsesinya dimana ia hidup bermigrasi.
b.    Pengetahuan dan kajiannya yang luas tentang karya klasik arab, serta pengalaman kulturnya.
c.    Rasa rindu terhadap negerinya yang penuh dilema baik politik maupun sosial.
d.   Pemahaman, kemahiran, pengetahuan dan emosinya yang baik terhadap bahasa asing.
e.    Pengaruh kebebasan, kemajuan budaya, sosial, politik negeri yang baru ditempatinya. (Hambali: 2009).

            Selain itu, dapat diketahui di referensi lain mengenai karakteristik karya sastra diaspora, diantaranya yakni:
1.      Tidak terlepas dari pengaruh pengalaman hidup para sastrawannya baik secara politis, religius, sosiologis bahkan psikologis.
2.      Banyak terpengaruh oleh karya sastra Barat.
  1. Muncul bentuk baru yang cenderung bebas yakni al-Syi’r al-Hur atau al-Mursal (bebas sajak dan wazan), dan  al-Syi’r al-Mantsur (bebas wazan tetapi terkadang masih bersajak).[4]
  2. Banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan sastra Arab masa modern.
Di referensi lain disebutkan bahwa sastrawan diaspora sama sekali tidak menerima ‘arudl,  baik wazan (musikalitas) maupun qafiyah (sajak), tidak terikat oleh aturan klasik, atau bergaya prosa liris, seperti Kahlil Gibran. (Muzakki, 2011: 142).
        Maka dapat diketahui dari penjelasan tersebut, bahwa karakteristik karya sastra pada hal ini memberikan alternatif akulturasi dua budaya yaitu budaya negeri asal mereka dan budaya negara baru yang ditempatinya dan memberikan warna baru dalam bentuk budaya dan corak karya sastra baru. Sebagaimana diketahui bahwa sejak adanya perkembangan ilmu sastra khususnya kritik sastra, maka sebuah karya sastra akan mendapat penilaian bahkan kajian dari berbagai pendekatan yang intinya akan dapat memberikan suatu penilaian terhadap sebuah karya sastra walaupun boleh dikatakan bahwa karya sastra itu merupakan bagian dari seni yang medianya bahasa yang bersifat individualistik dan otonom.
      Konstruk dalam karya sastra dan berkembangnya ilmu sastra yang terkadang mengesampingkan keindahan bahasa sastra, sering sekali memandang karya sastra dari segi isi dan pesan yang dimuat oleh karya sastra. Terlepas dari model pendekatan, obyek kritik sastra yang komplek disini akan mencoba menganalisa secara historis fakta dan pengalaman kaum diaspora Arab yang mempunyai keistimewaan dan sekaligus kekurangan.










BAB III
PENUTUP

1.1    Kesimpulan

            Dari penjelasan yang telah dipaparkan oleh pemakalah pada pembahasan makalah ini, maka dapat kita simpulkan bahwa:
1.      Kata diaspora sebenarnya diambil dari peristilahan tentang orangorang etnis manapun yang berpindah tempat atau meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka, atau penyebaran mereka di berbagai bagian lain di dunia dan perkembangan yang dihasilkan dari penyebaran dan budaya mereka. Hal ini tidak terjadi bagi bangsa Arab saja, tetapi bahkan peristilahan ini pada mulanya diperuntukkan oleh orangorang Yunani yang bermigrasi ke wilayah jajahan tertentu dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan.
2.    Sastra diaspora pada hakikatnya terjadi karena beberapa faktor, diantaranya yaitu: 1).        Beberapa bangsa Afghanistan yang meninggalkan negara mereka sepanjang abad ke- 20 karena perang saudara yang berkepanjangan, 2). Migrasi beberapa orang Palestina karena perang bangsa Arab dan Israel sejak tahun 1948, 3). Diaspora orang-orang   Indonesia khususnya orang suku Jawa yang dibawa oleh Belanda ke Suriname       sebagai            pekerja perkebunan Belanda, 4). Diaspora orang-orang Tionghoa dan           bangsa lain di negara negara Asia Tenggara, Eropa bahkan Amerika, 5).     Diaspora orang-orang Arab    dan kini menetap di Australia, beberapa negara Eropa Barat dan Amerika (baik         Utara   maupun Selatan), 6). Karena mereka berada dalam    komunitas yang terbatas di             negara rantauan dan juga sulitnya karya sastra mereka          terpublikasi, maka mereka       membentuk beberapa organisasi jurnalistik sebagai media             yang    mewadahinya seperti:             Al-Rabithah al-Qolamiyah, Jami’ah al-Adab al-         Araby, dan      Al-Ushbah al-  Andalusiah
3.    Karakteristik sastra Arab al-Mahjar tidak terlepas dari pengaruh pengalaman hidup            para sastrawannya baik secara politis, religius, sosiologis bahkan psikologis yang           banyak             mempengaruhi karya sastra arab diapora. Diantaranya faktor-faktor yang        mempengaruhi             dan merupakan suatu realitas yang dialami mereka, yaitu: Budaya timur dengan berbagai tradisi, kebiasaan, pandangan hidup dan  obsesinya             dimana ia hidup bermigrasi, Pengetahuan dan kajiannya yang luas tentang karya klasik Arab, serta pengalaman kulturnya,  Rasa rindu terhadap negerinya yang penuh dilema baik     politik maupun sosial, Pemahaman, kemahiran, pengetahuan dan emosinya yang baik terhadap bahasa asing, dan Pengaruh kebebasan, kemajuan budaya, sosial, politik negeri             yang baru ditempatinya.

3. 2 Saran

            Dalam penyusunan makalah ini, kami merasa masih banyak kesalahan baik secara teknis penulisan maupun dari segi materi yang kami paparkan. Namun, dari itu kita juga tidak boleh memandang semua yang serba kurang itu buruk, bisa jadi dari kekurangan itulah kita bisa menjadi yang lebih baik.
            Oleh karena itu, penulis berharap agar makalah ini bisa digunakan sebagaimana mestinya. Terakhir, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca semua untuk kesempurnaaan makalah ini maupun sebagai bahan evaluasi untuk makalah yang akan datang.















DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Ibrahim, dkk. 2001. Al-Adab wa An-Nushush. Kuwait: Wizarah Tarbiyah. Atho’illah, Ahmad. 2008. Sejarah Perkembangan Masyarakat & Sastra Diaspora Arab-Amerika             Adabiyyat,7(2).(Online),(http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/7208201222.pdf),            diakses pada             tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.
Hambali, Gufron. 2008. Perkembangan dan Karakteristik Adab Mahjar (Sastra Arab         Diaspora). 1(2). (Online), (http://www.jurnallingua.com/edisi-2008/13-vol-1-no-          2/59-    perkembangan-dan-karakteristik-adab-mahjar-sastra-arab-diaspora.html),      diakses pada    tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.
Hambali, Gufron. 2009. Perkembangan dan Karakteristik Adab Mahjar (Sastra Arab         Diaspora), (Online), http://jurnallingua.blog.com/2009/01/10/adab-mahjar-sastra- arab-    diaspora/, diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.45 WIB.
Ifada, Amaria, dkk. 2012. (Online), mariavada.blogspot.com/2013/11/sejarah-sastra-arab-pada-     masa-            modern.html, diakses pada     tanggal 3 Mei 2014, pukul 14.22 WIB.
Muzakki, Ahmad. 2011. Pengantar Teori Sastra Arab. Malang: UIN Maliki Press.
Qubatsir, Ahmad. tt. Tarikh al-Syi’ir al-Araby Al-Hadits. Beirut: Dar al-Jayl.
Ridho, Miftah Thariq, dkk. 2014. “Kesusastraan Modern”, (Online),             http://www.slideshare.net/touriquekalashnikov/kesusastraan-arab-modern, diakses             pada tanggal 5 Mei 2014, pukul 17.00 WIB.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka    Utama.








[1] Gufron Hambali. 2008.Perkembangan dan Karakteristik Adab Mahjar (Sastra Arab Diaspora)”. 1(2), dalam (http://www.juranallingua.com/edisi-2008/13-vol-1-no-2/59-perkembangan-dan-karakteristik-adab-mahjar-sastra-arab-diaspora.html), diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.

[2] Gufron Hambali. 2008. “Perkembangan dan Karakteristik Adab Mahjar (Sastra Arab Diaspora”). 1(2) dalam (http://www.jurnallingua.com/edisi-2008/13-vol-1-no-2/59-perkembangan-dan-karakteristik-adab-mahjar-sastra-arab-diaspora.html), diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.

[3]Miftah Thariq, dkk. “Kesusastraan Modern”, dalam http://www.slideshare.net/touriquekalashnikov/kesusastraan-arab-modern, diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.

[4]Miftah Thariq, dkk. “Kesusastraan Modern”, dalam http://www.slideshare.net/touriquekalashnikov/kesusastraan-arab-modern, diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.

1 komentar: