SITUS
BERSEJARAH DI MEKKAH (KA’BAH DAN ZAM ZAM)
Oleh: Qoniatu
Saadah (11310090)
Fadhil Masykuri
(11310093)
Fikih Aziz
A.
Pendahuluan
Makkah
merupakan kota tertua di muka bumi ini. Penghuni pertamanya adalah Nabi Adam
a.s. dan istrinya Hawa. Dari keduanya, lahirlah umat manusia, diantaranya
adalah Ibrahim dan Ismail, putranya. Keduanya adalah utusan Allah yang
diperintah menyelesaikan pembangunan fondasi Baitullah yang sudah ada
sebelumnya. Selanjutnya, pembangunan diwarisi oleh keturunanya, yaitu Muhammad
bin Abdullah.
Mekkah oleh
umat Islam tidak saja diposisikan sebagai kota Historis, melainkan juga
diyakini memiliki dimensi metahistoris yang menembus batas sejarah Ibrahim,
bahkan sampai awal mula dari penciptaan manusia.
Secara
teologis, eksistensi ka’bah sebagai baitullah mempunyai pesan dan keajaiban
yang sangat mulia. Ketauhidan (monotheisme) yang diajarkan Ibrahim merupakan
modal dasar yang amat besar untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan toleran.
Sebab dengan keyakinan seperti itu, maka manusia pada hakikatnya sebagai
ciptaan-Nya yang lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa di hadapan pencipta dan
pemilik kehidupan ini.
Bangunan paling
inti, sederhana, anggun namun penuh misteri yang berada di Mekkah tak lain
adalah Ka’bah. Dia merupakan penghubung jagad Bumi dan langit, penyambung
antara alam fisika dan metafisika, antara dunia dan akhirat. Keberadaan ka’bah
menyimpan seribu satu pesan yang makna dan daya tairiknya selalu terpancar
setiap saat, mengisi ruang batin dan Nalar bagi setiap pengunjung. Apalagi
dihiasi dengan berbagai kekuatan dan keistimewaan yang berada di sekitarnya
seperti zamzam, hajar aswad, hijir ismail, maqam ibrahim, dan lain-lain.
B.
ISI
1.
KA’BAH
1.1 Arti dan Makna Ka’bah
Dalam bahasa
Arab, kata ka’bah terdiri dari tiga huruf kaf (ك), ‘ain)
(ع, dan ba (ب) yang secara harfiyah banyak artinya. Para ahli bahasa mengambil
kata yang terpenting, yakni bermakna tinggi dan menyendiri. Dalam pendapat lain
dikatakan maknanya adalah persegi empat. (Zainur Rofiq: 50)
Syeikh Ibnu
Mandzur dalam kitab Mukhtar Shohah jilid 1 haalaman 27 mengartikan makna
asalnya adalah sesuatu yang Agung yang ditempatkan di atas kaki manusia. Imam
Lihyani mengatakan dalam kitab lisanul arob bahwa orang Arab mengatakan setiap
rumah yang berbentuk persegi empat disebut ka’bah.
Dapat
disimpulkan, Baitullah disebut ka’bah karena dua alasan; pertama, karena
bentuknya yang persegi empat, dan kedua, karena ditinggikannya bangunannya.
Ka’bah secara istilah adalah rumah Allah yang suci.
1.2 Nama Ka’bah dalam Al-Qur’an
a.
Baitullah (Rumah Allah). Dinisbatkan
pada Dzat Allah. Nama ini diambil dari QS Al-Baqarah:125. Hal ini menunjukkan
betapa agung dan mulianya ka’bah sehingga sudah seharusnya semua yang hadir di
Ka’bah tunduk serta memuliakan-Nya.
b.
Ka’bah. Disebut demikian karena
bentuknya persegi empat. Dalam literatur Arab, bentuk bangunan yang persegi
empat disebut dengan ka’bah. Kemudian bangunan ka’bah karena terpisah dengan
bangunan lainnya.
c.
Al- Baitul Atiq (Rumah Pusaka).
Dinamakan demikian karena Baitullah salah satu tempat Ibadah yang tidak boleh
dimiliki oleh siapapun. Barang siapa yang masuk kedalamnya, maka akan aman.
Adapun negara atau orang yang berkhidmah terhadap ka’bah adalah orang yang
telah ditunjuk secara turun temurun.
d.
Baitul Haram.orang arab yang
bermukim di Makkah menyebutnya dengan istilah haram karena lebih mudah
dan lebih sederhana. Dalam percakapan sehari-hari, penduduk Makkah lebih sering
menggunakan istilah “al-Haram”.
e.
Al-Bait. Berasal dari bait (rumah),
namun ditambah “al” yang berarti “ma’rifah” (mempunyai makna khusus) yang
merujuk pada arti Baitullah. Dan ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Imran: 96
yang mempunyai arti “sesungguhnya rumah (al-bait) yang pertama kali dibangun
untuk tempat beribadah manusia adalah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi
dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia.
f.
Qiblah. Disebut qiblah karena ka’bah
sebagai pusat beribadah semua umat Islam dari seluruh penjuru Dunia. Mereka
hadir dalam satu tempat dengan niat yang sama serta dalam pakaian yang sama.
(Adzim Irsad: 78-80)
1.3 Sejarah Pembangunan Ka’bah
Para Ulama ahli
tarikh (ahli sejarah) memiliki beragam pendapat tentang siapa yang pertama kali
membangun ka’bah. Ada yang mengatakan malaikat, ada yang mengatakan nabi Adam,
ada yang mengatakan nabi shith, anak nabi adam. Ada juga yang mengatakan Nabi
Ibrahim. Begitu juga beragam pendapat tentang berapa kali ka’bah direnovasi,
ada yang mengatakan lima kali, sepuluh kali, dan adapula yang mengatakan
sebelas kali mengalami renovasi. ( Zainur Rofieq:61)
1.
Malaikat
Sejarah ka’bah
tidak bisa dipisahkan dari Ibrahim. Meskipun demikian, menurut Ali al-Hasani
dalam Tarikh Makkata, banyak riwayat yang memberikan penjelasan perihal sejarah
ka’bah berasal dari umat-umat terdahulu sebelum Ibrahim. Ada yang menyatakan
bahwa malaikatlah yang bertindak bagi hadirnya ka’bah. (Zuhairi Misrawi: 216)
Surat Al-Imran 96-97 menjadi dalil pembenaran
yang mengatakan bahwa yang pertama kali membangun ka’bah adalah para malaikat.
Dengan bukti dalam surat itu menggunakan kalimat “untuk tempat ibadah manusia وضع للناس.
Ini berarti ka’bah sudah ada sebelum manusia ada, karena diperuntukkan manusia.
Posisi ka’bah ini berada tepat sejajar dengan Baitul makmur di ‘Arsy yang
dijadikan tempat tawafnya para malaikat. (Zainur Rofieq: 62)
Pandangan
ini juga didasarkan pada firman Allah yang berisi bahwa Dia akan menciptakan
seorang khalifah di muka bumi ini (QS. Al-Baqarah:30). Tatkala malaikat
bertanya kepada Allah, apakah akan menciptakan orang-orang yang merusak dan
menumpahkan darah di muka bumi, maka Allah murka kepada Malaikat. (Zuhairi
Misrawi: 216)
Setelah melihat
respons Allah yang seperti itu, mereka pun meminta ampunan kepada Allah sembari
berkumpul di ‘arsy dan merendahkan diri sambil bertawaf di ‘arsy (baitul
makmur). Kemudian Allah mengutus para Malaikat dan berfirman kepada mereka,
“bangunlah sebuah rumah yang serupa dan sebesar itu di Bumi.” Allah
memerintah pula kepada penduduk bumi untuk bertawaf di tempat itu. (Zainur
Rofieq: 64)
2.
Nabi Adam
عن
ابن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث الله جبريل إلى ادم وحواء
فقال لهما : ابنيا بيتا فخط لهما جبريل فجعل ادم يحفر وحواء تنقل حتى أجابه الماء
نودي من تحته: حسبك ياادم فلما بنياه أوحى الله إليه : أن يطوف به وقيل له: أنت
أول الناس وهذا أول بيت ثم تناسخت القرون حتي حجة نوح ثم تناسخت القرون حتى رفع
إبراهيم القواعد منه
Diriwayatkan
dari rasulullah bahwa beliau bersabda: Allah SWT telah mengutus malaikat jibril
kepada Adam dan Hawa, (Allah berfirman), “hai Adam an Hawwa, bangunkanlah
untuk-KU sebuah rumah! Lalu, jibril menunjukkan tempatnya. Adam menggali
tanahnya sedang Hawa memindahkannya sehingga sampai kepada air terdengar suara
dari bawah, “hati-hati wahai adam’, begitu Adam selesai membangunnya Allah
berfirman kepadanya agar dia berthawaf di rumah itu dan dikatakan, ‘Adam ikamu
Manusia pertama dan ini adalah rumah pertama’. Selanjutnya masa terus berganti
sampai nabi Nuh menunaikan haji, dan masa berganti lagi sampai pada Nabi
Ibrahim meninggikan fondasinya”.(Adzim Irsad:127-128)
Dikisahkan oleh
Atha’, Adam membangun rumah itu dari lima buah gunung, yaitu haro, Tursina,
Libnan, Judy, dan Turzeta. Imam Mawardi menambahkan bahwa Adam membangun
Baitullah seperti Ia lihat di ‘Arsy dengan dibantu Malaikat Jibril untuk
memindahkan bebatuannya. Adam adalah orang pertama yang melakukan shalat dan
Tawaf di sana.
Dalam kitab Al
Ma’arif, ibnu Qutaibah menerangkan bahwa sepeninggal Adam, yang memakmurkan dan
membangun Baitullah atau Ka’bah adalah Nabi shith, anak laki-laki nabi Adam,
hingga Allah mendatangkan angin Topan yang menyebabkan lenyapnya bangunan
Ka’bah tersebut, hanya tersisa fondasinya saja.(Zainur Rofieq: 69-70)
3.
Nabi Ibrahim dan Ismail
Sejarahnya
bermula dari migrasi Ibrahim dari Irak, yang merupakan tanah kelahirannya.
Pernikahannya dengan Sarah belum dikaruniai seorang anak hingga akhirnya ia
dihadiahi seorang budak bernama Hajar.
Dari Hajar Ia
melahirkan seorang anak yang bernama Ismail. Lalu, sarah memerintahkan mereka
untuk hijrah, hingga kemudian sampai di sebuah tempat yang gersang dan kering
kerontang. Setelah beberapa lama tinggal bersama keduanya, lalu Ibrahim
meninggalkan mereka untuk kembali ke Palestina menemui Sarah dan putranya
Ishaq.
Ketika Hajar
dan Ismail berada dalam kekhawatiran, karena makin menipisnya persediaan
makanan mereka. Ia meninggalkan tempat itu untuk melakukan jalan-jalan kecil
dari shafa ke marwa, yang sekarang dijadikan ritual Sa’i.
Setelah
menyelesaikan tujuh keliling, ia mendapatkan kaki Ismali menerjang-nerjang
tanah hingga akhirnya dari tanah tersebut menyemburkan air. Sumber air tersebut
disebut Zamzam.
Menurut At Thabari, Allah telah
mengutus malaikat untuk berkata kepada Hajar agar tidak khawatir, sebab suatu
saat Ibrahim akan datang ke tempat tersebut, dan akan membuat sebuah rumah
bersama anaknya. Rumah inilah yang kemudian disebut dengan ka’bah. (Zuhairi
Misrawi 18-219)
Saat Ismail
dalam proses pertumbuhan menjadi dewasa, ibrahim sering menjenguknya dari
palestina. Sutu hari, nabi ismail diajak berdialok oleh nabi ibrahim,
“sesungguhnya Allah telah menyuruhku untuk melakukan sebuah pekerjaan” Ismail
kemudian menyahut, “ laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah”. “apakah
engkau mau membantu?” tanya Ibrahim. Ismail menjawab, “aku siap untuk
membantu”. “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk membangun rumah di
sini” sambil menunjuk sebuah bukit yang kini menjadi Masjidil Haram. (Zainur
Rofieq:76-77)
Qatadah meriwayatkan
tentang bahan-bahan yang merupakan bahan ka’bah didatangkan dari Harra’,
libanon, Sinai dan Turnzeta. Sedangkan Suhail mengisahkan bahan-bahan tersebut
didatangkan oleh malaikat. (Zuhairi Misrawi: 219)
Setelah
membangun kembali fondasi yang sudah lama tidak dipelihara sepeninggal Shith,
Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Rumah di atas fondasi itu. Ismail bertugas
membawa batu dan Ibrahim yang menyusunnya. Ketika susunan Batu yang semakin
meninggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk dipijak oleh Ibrahim. Batu inilah
yang kemudian dinamakan Maqam Ibrahim.
Dikisahkan
dalam kitab Tarikhul Ka’bah, karangan syiekh Ali Husni, ketika Ibrahim dan
Ismail sampai pada penyelesaian akhir dari sudut( rukun)bangunan Bitullah, dan
hanya tinggal satu bagian lagi yang belum tertutup, nabi Ibrahim kemudian
berkata, “wahai anakku, ambillah satu batu yang bisa memberikan daya tarik bagi
manusia.” Kemudian Ismail memberikan batu. Ibrahim berkata, “bukan batu seperti
itu yang aku maksud”. Ismail pun mencari lagi batu yang dimaksud sang ayah.
Saat Ismail sudah membawa batu temuannya, ternyata Nabi Ibrahim sudah
memasangkan di bagian itu sebuah batu yang Ismail Tidak mengetahuinya. Kemudian
Ismail bertanya kepada ayahnya,” wahai ayahku, siapakah gerangan yang membawa
batu itu kepadamu?” Ibrahim menjawab, “ telah datang kepadaku malaikat jibril
membawakan batu itu”. Batu itulah sekarang yang dikenal dengan Hajar Aswad.
(Zainur Rofieq:76-78)
Pembangunan
ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail juga dijelaskan dalam surat Al-Baqarah:127
وَاِذْ
يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ القَوَاعِدَ من البَيْتِ وإسمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ
مِنَّا أنتَ السمِيْعُ العَليمُ
yang mempunyai
arti:
“dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama
Ismail (seraya berdoa), “ya Allah tuhan kami ! terimalah dari kami (amalan
kami). Sesungguhnya engkaulah yang maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Adzim
Irsad:126)
Bentuk Baitullah pada masa Ibrahim dan
Ismail:
a.
Tingginya Sembilan hasta
b.
Panjangnya dari hajar aswad sampai
rukun syami adalah 32 hasta
c.
Lebarnya dari Rukun Syami sampai
rukun gharbi adalah 22 hasta
d.
Panjangnya dari rukun gharbi sampai
rukun yamani adalah 31 hasta
e.
Lebarnya dari rukun yamani sampai
hajar Aswad adalah 20 hasta (Adzim Irsad: 132)
1.4 Pembangunan Ka’bah oleh suku-suku Arab
a.
Suku Amaliqah
Sepeninggal Nabi Ibrahim, dikisahkan Ka’bah pernah rusak dan pernah
dibangun kembali oleh suku bangsa Amaliqah. Imam Mawardi menerangkan setelah
dibangun oleh suku Amaliqah, dalam perjalanan waktu kemudian, Ka’bah terkena
banjir besar dari dataran tinggi Mekkah yang mengakibatkan rusaknya dinding
ka’bahmeskipun tidak roboh. Suku jurhumlah yang kemudian membangunnya kembali
seperti sedia kala dengan menambah bangunan di luar ka’bah untuk penahan luapan
air bila terjadi banjir kembali. (Zainur Rofieq:81)
b.
Qusay bin Kilab. Orang yang pertama
kali merenovasi dari suku Quraisy. Dia membangun atap Baitullah dari kayu Dum
dan pelepah kurma. A’syii bekata dalam sebuah syairnya dengan bahar thawil
خلفت بثوبي راهب الشام والتى: بناها قصى جده وابن جرهم.
“aku bersumpah demi dua pakaian pendeta syam dan demi ka’bah yang
dibangun qusay, kakek, dan putra suku jurhum. (adzim irsad:133-134)
c.
Kaum Quraisy
Pembangunan di masa ini disebabkan ka’bah terkena api dan temboknya
sudah mulai retak, serta sebab-sebab lainnya. Oleh karena itu, para petinggi
Quraisy bersepakat untuk merenovasinya. Namun fondasinya tetap seperti semula
yang dibangun Nabi Ibrahim.
Dalam renovasi itu terjadi insiden antar pemimpin besar mereka
tentang siapa yang pertama kali meletakkan batu mulia hajar aswad. Namun
khadiran Muhammad di tengah-tengah mereka mengubah suasana menjadi sejuk dan
damai. (Adzim Irsad:135).
Karena perselisihan tidak bisa diredakan, mereka bermusyawarah
membuat sebuah kesepakatan siapa yang pertama kali masuk Baitullah dari pintu
Bani syaiba, dialah yang paling berhak untuk meletakkan hajar awsad. Dan
kemudian beliaulah keluar sebagai pemenenag untuk meletakkan hajar aswad itu, beliau memutuskan untuk
melakukan bersama-sama agar masing-masing suku tetap merasa dihargai dan
memiliki kewenangan yang sama. (Zainur Rofieq:82)
Saat itu bangsa Quraisy membangun enam tiang di dalam ka’bah dengan
posisi dua jajar. Sejak masa pembangunan oleh suku Quraisy, bangunan asli
ka'bah yang dibangun Nabi Ibrahim mengalami penyempitan hingga bentuknya
seperti yang kita lihat sekarang. Penyempitan itu terjadi di daerah rukun syami
sehingga membuat hijir ismail tidak lagi masuk dalam lingkaran ka’bah. (Zainur
Rofieq:83)
d.
Abdullan bin Zubair
Pada zaman dinasti Mu’awiyah, bangunan ka’bah mengalami kebakaran
lagi. Pada bulan Dzulhijjah tahun 64 H. Abdullah bin Zubair berinisiatif untuk
membangun ka’bah. Inisiatif beliau menjadi polemik diantara mereka. Sebagian
setuju dengan inisiatif ibnu Zubair karena kondisi ka’bah yang terkena api. Sedangkan
sebagian lain menolak dan keluar ke Mina karena takut dengan Adzab Allah SWT.
Setelah ibnu Zunbair melkukan shalat Istikharah, barulah ka’bah dirobohkan
untuk dibangun kembali.
Adapun bentuk ka’bah setelah direnovasi tidak berubah, hanya saja
sedikit lebih menarik dari sebelumnya. Setelah renovasi yang dilakukan Ibnu
Zubair, pintu Baitullah yang tadinya satu, beliau menjadikannya dua pintu.
Pintu yang pertama bagi yang memasuki ka’bah dan pintu yang kedua bagi yang
keluar dari ka’bah. (adzim Irsad:136)
Sekitar tahun 1039 H,
turun hujan lebat di kota mekah. Banjir besar di masjidil haram tidak bisa
dibendung lagi bahkan sampai mengakibatkan dinding rukun syami runtuh. Atas
perintah sultan Murad Khan, kemudian ka’bah dibangun kembali, dan selesai pada
tanggal 2 Dzulhijjah 1040 H. Pembangunan ini memakan waktu enam setengah bulan.
Inilah pembangunan ka’bah terakhir hingga bentuknya seperti sekarang yang kita
lihat. Pintunya dinaikkan ke atas, dan hijir Ismail tetap berada di luar
bangunan kota Ka’bah. (Zainur Rofieq:87-88)
1.5 Kekuatan di sekitar Ka’bah
1.
Hajar Aswad
Hajar aswad merupakan sebuah batu dari surga yang disimpan di salah
satu sudut ka’bah dan digunakan sebagai titik awal memulai thawaf. Abu Hurairah
meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “siapa pun menyentuhnya (hajar
Aswad)maka sesungguhnya ia menyentuh yad arrahman azza wajalla” ( HR Abu
Hurairah) (Zainur Rofieq:123)
2.
Multazam
Multazam merupakan area di dalam Masjidil Haram, yaitu di antara
rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Ibnu Abbas berkata, “inilah Mutazam, di
antara pintu ka’bah dan rukun (hajar aswad).
Dalam sunan Abu
Daud disebutkan bahwa Abdurrahman bin Sofwan mengatakan, ketika Rasulullah
menaklukkan kota Makkah, aku mengenakan pakaianku lalu aku lihat Rasulullah
beserta sahabat telah keluar dari Ka’bah. Mereka memegangi Baitullah mulai dari
pintu hingga Hathim dan mereka pun meletakkan pipi mereka ke Baitullah,
sementara Rasulullah berada di tengah-tengah mereka. (Zainur Rofieq:133)
3.
Maqam Ibrahim
Adalah batu bekas pijakan Ibrahim saat membangun Ka’bah bersama
Ismail. Saat ini, maqam Ibrahim diabadikan dengan tembaga kuning dan
ditempatkan tepat di depan pintu ka’bah (berjarak sekitar 10 meter dari pintu
ka’bah)
Abdullah bin Amr
bin Ash menyatakan bahwa sesungguhnya rukun (hajar Aswad) dan maqam ibrahim
merupakan bagian dari surga. (Zainur Rofieq:137-138)
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 125
وَإذْ
جَعَلْنَا البَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وأَمْنَا واتَّخِذُوا من مَقَامِ
إبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى وعَهِدْنَا إلَى إبْرَاهِيْمَ وإسْمَاعِيْلَ أنْ طَهِّرَا
بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ والعاكِفِيْنَ والرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan Ingatlah,
ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan
tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan,
telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “bersihkanlah rumah-Ku untuk
orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku, dan yang sujud.”
(Zainur
Rofieq:141)
4.
Hijir Ismail
Dinding pendek yang melingkar setengah lingkaran dan posisinya
berada di sebelah utara ka’bah. Letaknya tepat di arah Syami. Hijir Ismail
termasuk dari bagian ka’bah. Barang siapa yang ingin melaksanakan shalat dalam
ka’bah, maka ia tinggal melaksanakannya di dalam setengah lingkaran hijir
ismail itu. Dan ketika seang thawaf, hijir Ismail itu harus ikut dikelilingi
sehingga jamaah tidak boleh memotong jalan untuk mempercepat putaran thawaf
dengan lewat lorong-lorong Hijir Ismail.Aisyah berkata, “ aku ingin masuk ke
dalam ka’bah untuk shalat di dalamnya lalu aku menarik Rasulullah dengan kedua
tanganku, kemudian Rasulullah memasukkanaku ke dalam Hijir Ismail, dan bersabda
“shalatlah di dalam Hijir jika memang engkau ingin memasuki Bitullah, sebab ia
adalah bagian dari Baitullah, akan tetapi kaumu telah melakukan kecerobohan
ketika mereka membangun ka’bah sehingga mereka mengeluarkannya dari Baitullah.
(HR Bukhrari). (Zainur Rofieq:143-145)
5.
Kiswah Ka’bah
Kiswah adalah penutup atau “baju” Ka’bah. Yang pertama kali
memberikan kiswah ini adalah Nabi Ismail. Namun ada pula yang mengatakan
seorang pengusaha dari Yamanyaitu As’ad Al Humairi. Pada masa Islam,
Rasulullahlah yang pertama kali menutupi Ka’bah dan kemudian dilanjutkan oleh
para khalifah.
Sejak kehancuran dinasti
Abbasiyah, Kiswah Ka’bah dibuat di Mesir. Apalagi setelah Raja Shalih Ismail
Qalawun sengaja membuka tiga perkampungan baru yang dikhususkan untuk pembuatan
kiswah Ka’bah. Pada saat mesir dipimpin oleh Ali Basya, ia sengaja membuka
kantor pemerintahan khusus urusan kiswah Ka’bah.
Pada tahun 1924 M,
barulah suplai kiswah ka’bah itu dihentikan dari Mesir dan pengerjaan kiswah
diambil alih oleh raja Abdul Aziz dari Dinasti Saud. Ia juga membangun
pabriknya di kota mekah. Pabrik kiswah di Mekah ini pertama kali menghasilkan
kiswah pada tahun 1926 M.
Kiswah terbuat
dari bahan sutra murni dan dibei warna hitam. Disekelilingnya dirajut dengan
tulisan arab Tsulusi berwarna kuning emas. Kiswah ini terdiri dari lima potong,
empat potong pembungkus sisi-sisi ka’bah dan satu potong untuk penutup
pintunya.
Penggantian kiswah
dilakukan setiap tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu saat semua jemaah Haji tengah
melakukan wukuf di arafah. (Zainur Rofieq:160-162)
Sebaik-baik air
di muka bumi adalah air zamzam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang
mengenyangkan dan penawar penyakit.(HR. At-Thabrani)
Zamzam adalah
nama sumur yang terletak disebelah timur Hajar Aswad dan di sebelah selatan
maqam Ibrahim saat ini[1].
Zamzam, dalam bahasa Arab artinya air yang melimpah dan dapat juga berarti
minuman dengan regukan sedikit-sedikit. Dalam referensi lain dikatakan bermakna
Al-katsrah wal ijtima’, artinya banyak, melimpah ruah. Dinamai zamzam karena
airnya sangat melimpah, tidak akan surut selamanya dan airnya yang berkah[2].
Sumur ini, mengeluarkan air bersih Zamzam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu
meminum air Zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air
Zamzam kita menghadap ke Ka’bah dengan mengangkat kedua tangan sambil berdo’a
kepada Allah[3].
2.1 Sejarah Air Zamzam
1.
Kisah Awal Mula Munculnya Air Zamzam
Tentang zamzam
ini sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari isteri Nabi Ibrahim AS yaitu Siti
Hajar dan putranyaNabi Ismail AS.Waktu Ismail dan Ibunya ditinggalkan olehNabi
Ibrahim di Mekah, mereka kehabisan air untuk diminum. Maka Siti Hajar pergi ke
bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara
bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Namun tidak berhasil menemukan
setetes air pun.Tiba-tiba ia mendengar suara. Maka Siti Hajar pun berkata,
”saya mendengar suaramu, tolonglah aku jiaka engkau punya kebaikan”.
Kemudian
malaikat jibril menampakkan diri dan melalui hentakan kaki Nabi Ismail, dengan
serta-merta air memancar dari bumi.Siti hajar membendung air itu karen amelimpah
ruah serta berkata “zam…zam…zam” yang maksudnya berkumpul-berkumpul. Air inilah
yang kemudian terkenal dengan nama “sumur Zamzam” yang diriwayatkan oleh
At-Tabrani dalamkitab Al-Mu’jamul Kabir dari Ibnu Abbas RA bahwa nabi Muhammad
SAW bersabda, tentang air Zamzam yang artinya;
“sebaik-baiknya
air di permukaan bumi ialah air Zamzam, padanya terdapat makanan yang
menyegarkan dan padanya terdapa tpenawar bagi penyakit”.
Setelah
beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat mata air itu, setelah berita
itu tersebar, datanglah dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya
untuk berkenalan sekaligus minta izin untuk memanfaatkan air itu dan jika
diperbolehkan, maka mereka akan ikut tinggal di sekitarnya.
Maka Siti Hajar
dengan senang hati menerima mereka dan akhirnya menjadi sekumpulan masyarakat
baru di sekitar mata air Zamzam dan seterusnya menjadi sebuah kota yang amat
ramai[4].
2.
Zamzam Sepeninggalan Nabi Ismail AS
Suku Jurhum
senang tinggal di makkah karena terdapat air Zamzam yang jernih dan segar yang
belum pernah mereka temukan. Sumur Zamzam telah menjadi penghidupan bagim
ereka.Namun, keadaan itu membua tmereka lupa. Mereka menguasai sumur Zamzam
secara paksa, bahkan berlaku zalim terhadap orang yang mengunjunginya. Mereka
berani memakan harta yang dihadiahkan untuk Baitullah dan merampas harta benda
orang lain yang hidup di sekitarnya[5].
Seiring dengan
sikap dan perilaku kabilah Jurhum yang semakin brutal, sedikit demi sedikit
sumber air Zamzam mengecil. Sampai pada akhirnya, sumber air Zamzam tertutup
sama sekali karena banyaknya persembahan berupa patung seta baranga-barang yang
terbuat dari emas yang dimasukkan oleh suku Jurhum ke dalam sumur Zamzam.
Sumur Zamzam
menghilang disebabkan karena perilaku Jurhum yang menimbulkan petaka bagi kaumnya
dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Sampai suatu ketika terjadi
peperangan antara Jurhum dan Bani Khuza’ah yang berakhir dengan terusirnya suku
Jurhum dari Baitullah.
3.
Penggalian Zamzam oleh Abdul
Muththalib
Zamzam mulai
digali lagi pada masa Abdulmuththalib, kakek Rasulullah SAW. Pengalian tersebut
sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW dan berdasarkan pada mimpi Abdul
Muththalib. Suatu ketika beliau tertidur. Tiba-tiba ada perintah yang
mengatakan, ”galilah thibah” beliau pun bertanya, “apa thibah itu?” setelah
berulang kali ada suara yang memerintahkan, “galilah Zamzam!” Dia bertanya lagi
“apa itu Zaamzam?” suara itu menjawab tidak akan berhenti selamanya dan tidak
akan terputus untuk memberi minum jamaah haji yang mulia”
Pada mulanya
penggalian sumur itu dicegah oleh orang-orang Quraisy, karena lokasinya dekat
dengan tempat dua berhala, Asaf dan Nailah, yang dipuja orang Quraisy dengan
menyembelih kurban di dekatnya. Tetapi Abdul Muttalib tetap bersikeras
melakukan penggalian sesuai dengan petunjuk mimpinya, hingga orang Quraisy
membiarkannya. Dalam sumur itu ditemukan dua patung kijang dari emas beberapa
buah pedang dan perisai. Kemudian pedang dan kijang emas itu dilebur dan dibuat
pintuKa’bah[6].
Ketika tempat
yang ditentukan sudah jelas, beliau memulai mencoba untuk menggalinya.Tempat
Zamzam yang ditunjukkan ternyata sangat kering, seolah-olah tidak ada sumber
air di dalamnya. Penggalian terus dilakukan walaupun banyak dari para penggali
yang meninggal dunia. Sampai akhirnya Abdul Muththalib hampir putusasa,
kemudian beliau bernadzar. Penggalian itu pun sempat terhenti beberapa tahun[7].
Setelah
beberapa tahun penggalian sumur Zamzam terhenti, Abdul Muththalib melanjutkan
penggaliannya, dan atas Ridha Allah mata Air Zamzam berhasil mengalir kembali.
Selanjutnya sumur zamzam berada di bawah pengawasan Abdul Muttalib dan
keturunannya dari Bani Abdul Manaf. Lalu air zamzam ini disediakan untuk air
minum orang-orang yang brkunjung ke makkah[8].
2.2 Zamzam
Sekarang ini
Sumur Zamzam
yang terletak di dalam Masjidil Haram menjadi pekerjaan barubagi Kerajaan Arab
Saudi. Untuk mempermudah pelayanan terhaap Jamaah Haji, pada tahun 1415
dibentuk kantor urusan Zamzam. Kantor ini secara khusus mengatur akomodasi dan
aliran air Zamzam, mulai membangun tangki sampai pada persiapan air Zamzam
untuk para jamah Haji. bahkan, sampai pengiriman keseluruh daerah di Arab
Saudi, khususnya di masjid-masjid[9].
Padamulanya
Kerajaan Arab Saudi menjadikan sumur Zamzam berada di bawah tempat Thowaf, agar
para jamaah lebih leluasa untuk minum dan wudhu.Namun, seiring setiap tahun
para jamaah haji bertambah dan tempat thawaf semakins empit. Maka, pada tahun
1984 sumur Zamzam ditutup untuk perluasan tempat thawaf. Kemudian mengalirkan
Air ke Pabrik pengolahan Air Zamzam yang terletah 4 KM dari Masjidil Haram.
C.
KESIMPULAN
1.
Baitullah disebut ka’bah karena dua
alasan; pertama, karena bentuknya yang persegi empat, dan kedua, karena
ditinggikannya bangunannya. Ka’bah secara istilah adalah rumah Allah yang suci.
2.
Nama Ka’bah dalam Al-Qur’an: Baitullah (Rumah Allah), Ka’bah, Al- Baitul
Atiq (Rumah Pusaka), Baitul Haram, Al-Bait, Qiblah.
3.
Para Ulama ahli tarikh (ahli
sejarah) memiliki beragam pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun
ka’bah. Ada yang mengatakanmalaikat, ada yang mengatakan nabi Adam, ada yang
mengatakan nabi shith, anak nabi adam. Ada juga yang mengatakan Nabi Ibrahim.
Begitu juga beragam pendapat tentang berapa kali ka’bah direnovasi, ada yang
mengatakan lima kali, sepuluh kali, dan adapula yang mengatakan sebelas kali mengalami
renovasi.
4.
Kekuatan di sekitar ka’bah:
1.
Hajar Aswad
2.
Multazam
3.
Maqam Ibrahim
4.
Hijir Ismail
5.
Kiswah Ka’bah
5.
Mata Air Zamzam muncul ketika Siti
Hajar dan putranyaNabi Ismail kehausan karena ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di
tanahMakkah atas perintah Allah.
6.
Dalam sejarahnya mata air Zamzam
telahbeberapa kali digali, baik karena tertibun maupun karena perbaikan, yang
pertam kali dilakukan oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah pada zaman Jahiliah
dan terakhir adalah yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi pada awal tahun
1984 M[10].
DAFTAR PUSTAKA
Adzim Irsad,
Abd. 2009.Makkah: Keajaiban dan Keagungan. Jogjakarta: A+PLUS BOOKS.
Bin Shalih bin
Ibrahim, Ahmad.2008.Kisah Kota Makka I. Surabaya: Pustaka.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. 1997. Ensiklopedi Islam.
Jakarta: IchtiarBaru Van Hove. Cet: 4.
Gayo, Iwan.
2000.Buku Pintar Haji &Umrah. Jakarta: PustakaWarga Negara. Cet:14
Misrawi, Zuhairi. 2009. Mekkah Kotasuci, Kekuasaan, dan Teladan
Ibrahim. Jakarta: Kompas
Rofieq, Zainur. 2008. Mukjizat Ka’bah. Jakarta: Qultum Media
cet: 2
[1]
Ahmad bin Shalih bin Ibrahim, 2008, Kisah Kota Makkah, Surabaya:
Pustaka, hal: 206
[2]Ensiklopedi
Islam/ penyusun, DewanRedaksiEnsiklopedia Islam- Cetakan ke-4- JAKARTA:
IchtiarBaru Van Hove, 1997 halaman 23
[3]IwanGayo,
2000, BukuPintar Haji &Umrah, Jakarta: PustakaWarga Negara, Cet:14,
Hal: 370
[4]IwanGayo,
2000, BukuPintar Haji &Umrah, Jakarta: PustakaWarga Negara, Cet:14,
Hal: 371
[5]Abd.AdzimIrsad,
2009, Makkah: KeajaibandanKeagungan, Jogjakarta: A+PLUS BOOKS, hal. 152
[6]Ensiklopedi
Islam/ penyusun, DewanRedaksiEnsiklopedia Islam- Cetakan ke-4- JAKARTA:
IchtiarBaru Van Hove, 1997 halaman 23
[7]Abd.AdzimIrsad,
2009, Makkah: KeajaibandanKeagungan, Jogjakarta: A+PLUS BOOKS, hal. 153
[8]Ensiklopedi
Islam/ penyusun, DewanRedaksiEnsiklopedia Islam- Cetakan ke-4- JAKARTA:
IchtiarBaru Van Hove, 1997 halaman 23
[9]Abd.AdzimIrsad,
2009, Makkah: KeajaibandanKeagungan, Jogjakarta: A+PLUS BOOKS, hal. 172
Good articla
BalasHapus