Rabu, 28 Mei 2014

ka'bah dan zam zam

SITUS BERSEJARAH DI MEKKAH (KA’BAH DAN ZAM ZAM)
Oleh: Qoniatu Saadah (11310090)
Fadhil Masykuri (11310093)
Fikih Aziz
A.     Pendahuluan
Makkah merupakan kota tertua di muka bumi ini. Penghuni pertamanya adalah Nabi Adam a.s. dan istrinya Hawa. Dari keduanya, lahirlah umat manusia, diantaranya adalah Ibrahim dan Ismail, putranya. Keduanya adalah utusan Allah yang diperintah menyelesaikan pembangunan fondasi Baitullah yang sudah ada sebelumnya. Selanjutnya, pembangunan diwarisi oleh keturunanya, yaitu Muhammad bin Abdullah.
Mekkah oleh umat Islam tidak saja diposisikan sebagai kota Historis, melainkan juga diyakini memiliki dimensi metahistoris yang menembus batas sejarah Ibrahim, bahkan sampai awal mula dari penciptaan manusia.
Secara teologis, eksistensi ka’bah sebagai baitullah mempunyai pesan dan keajaiban yang sangat mulia. Ketauhidan (monotheisme) yang diajarkan Ibrahim merupakan modal dasar yang amat besar untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan toleran. Sebab dengan keyakinan seperti itu, maka manusia pada hakikatnya sebagai ciptaan-Nya yang lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa di hadapan pencipta dan pemilik kehidupan ini.
Bangunan paling inti, sederhana, anggun namun penuh misteri yang berada di Mekkah tak lain adalah Ka’bah. Dia merupakan penghubung jagad Bumi dan langit, penyambung antara alam fisika dan metafisika, antara dunia dan akhirat. Keberadaan ka’bah menyimpan seribu satu pesan yang makna dan daya tairiknya selalu terpancar setiap saat, mengisi ruang batin dan Nalar bagi setiap pengunjung. Apalagi dihiasi dengan berbagai kekuatan dan keistimewaan yang berada di sekitarnya seperti zamzam, hajar aswad, hijir ismail, maqam ibrahim, dan lain-lain.

B.     ISI
1.      KA’BAH
1.1  Arti dan Makna Ka’bah
Dalam bahasa Arab, kata ka’bah terdiri dari tiga huruf kaf (ك), ‘ain) , dan ba (ب) yang secara harfiyah banyak artinya. Para ahli bahasa mengambil kata yang terpenting, yakni bermakna tinggi dan menyendiri. Dalam pendapat lain dikatakan maknanya adalah persegi empat. (Zainur Rofiq: 50)
Syeikh Ibnu Mandzur dalam kitab Mukhtar Shohah jilid 1 haalaman 27 mengartikan makna asalnya adalah sesuatu yang Agung yang ditempatkan di atas kaki manusia. Imam Lihyani mengatakan dalam kitab lisanul arob bahwa orang Arab mengatakan setiap rumah yang berbentuk persegi empat disebut ka’bah.
Dapat disimpulkan, Baitullah disebut ka’bah karena dua alasan; pertama, karena bentuknya yang persegi empat, dan kedua, karena ditinggikannya bangunannya. Ka’bah secara istilah adalah rumah Allah yang suci.
1.2  Nama Ka’bah dalam Al-Qur’an
a.       Baitullah (Rumah Allah). Dinisbatkan pada Dzat Allah. Nama ini diambil dari QS Al-Baqarah:125. Hal ini menunjukkan betapa agung dan mulianya ka’bah sehingga sudah seharusnya semua yang hadir di Ka’bah tunduk serta memuliakan-Nya.
b.      Ka’bah. Disebut demikian karena bentuknya persegi empat. Dalam literatur Arab, bentuk bangunan yang persegi empat disebut dengan ka’bah. Kemudian bangunan ka’bah karena terpisah dengan bangunan lainnya.
c.       Al- Baitul Atiq (Rumah Pusaka). Dinamakan demikian karena Baitullah salah satu tempat Ibadah yang tidak boleh dimiliki oleh siapapun. Barang siapa yang masuk kedalamnya, maka akan aman. Adapun negara atau orang yang berkhidmah terhadap ka’bah adalah orang yang telah ditunjuk secara turun temurun.
d.      Baitul Haram.orang arab yang bermukim di Makkah menyebutnya dengan istilah haram karena lebih mudah dan lebih sederhana. Dalam percakapan sehari-hari, penduduk Makkah lebih sering menggunakan istilah “al-Haram”.
e.       Al-Bait. Berasal dari bait (rumah), namun ditambah “al” yang berarti “ma’rifah” (mempunyai makna khusus) yang merujuk pada arti Baitullah. Dan ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Imran: 96 yang mempunyai arti “sesungguhnya rumah (al-bait) yang pertama kali dibangun untuk tempat beribadah manusia adalah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia.
f.       Qiblah. Disebut qiblah karena ka’bah sebagai pusat beribadah semua umat Islam dari seluruh penjuru Dunia. Mereka hadir dalam satu tempat dengan niat yang sama serta dalam pakaian yang sama. (Adzim Irsad: 78-80)
1.3  Sejarah Pembangunan Ka’bah
Para Ulama ahli tarikh (ahli sejarah) memiliki beragam pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun ka’bah. Ada yang mengatakan malaikat, ada yang mengatakan nabi Adam, ada yang mengatakan nabi shith, anak nabi adam. Ada juga yang mengatakan Nabi Ibrahim. Begitu juga beragam pendapat tentang berapa kali ka’bah direnovasi, ada yang mengatakan lima kali, sepuluh kali, dan adapula yang mengatakan sebelas kali mengalami renovasi. ( Zainur Rofieq:61)
1.      Malaikat
Sejarah ka’bah tidak bisa dipisahkan dari Ibrahim. Meskipun demikian, menurut Ali al-Hasani dalam Tarikh Makkata, banyak riwayat yang memberikan penjelasan perihal sejarah ka’bah berasal dari umat-umat terdahulu sebelum Ibrahim. Ada yang menyatakan bahwa malaikatlah yang bertindak bagi hadirnya ka’bah. (Zuhairi Misrawi: 216)
 Surat Al-Imran 96-97 menjadi dalil pembenaran yang mengatakan bahwa yang pertama kali membangun ka’bah adalah para malaikat. Dengan bukti dalam surat itu menggunakan kalimat “untuk tempat ibadah manusia وضع للناس. Ini berarti ka’bah sudah ada sebelum manusia ada, karena diperuntukkan manusia. Posisi ka’bah ini berada tepat sejajar dengan Baitul makmur di ‘Arsy yang dijadikan tempat tawafnya para malaikat. (Zainur Rofieq: 62)
  Pandangan ini juga didasarkan pada firman Allah yang berisi bahwa Dia akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi ini (QS. Al-Baqarah:30). Tatkala malaikat bertanya kepada Allah, apakah akan menciptakan orang-orang yang merusak dan menumpahkan darah di muka bumi, maka Allah murka kepada Malaikat. (Zuhairi Misrawi: 216)
Setelah melihat respons Allah yang seperti itu, mereka pun meminta ampunan kepada Allah sembari berkumpul di ‘arsy dan merendahkan diri sambil bertawaf di ‘arsy (baitul makmur). Kemudian Allah mengutus para Malaikat dan berfirman kepada mereka, “bangunlah sebuah rumah yang serupa dan sebesar itu di Bumi.” Allah memerintah pula kepada penduduk bumi untuk bertawaf di tempat itu. (Zainur Rofieq: 64)
2.      Nabi Adam
عن ابن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث الله جبريل إلى ادم وحواء فقال لهما : ابنيا بيتا فخط لهما جبريل فجعل ادم يحفر وحواء تنقل حتى أجابه الماء نودي من تحته: حسبك ياادم فلما بنياه أوحى الله إليه : أن يطوف به وقيل له: أنت أول الناس وهذا أول بيت ثم تناسخت القرون حتي حجة نوح ثم تناسخت القرون حتى رفع إبراهيم القواعد منه
Diriwayatkan dari rasulullah bahwa beliau bersabda: Allah SWT telah mengutus malaikat jibril kepada Adam dan Hawa, (Allah berfirman), “hai Adam an Hawwa, bangunkanlah untuk-KU sebuah rumah! Lalu, jibril menunjukkan tempatnya. Adam menggali tanahnya sedang Hawa memindahkannya sehingga sampai kepada air terdengar suara dari bawah, “hati-hati wahai adam’, begitu Adam selesai membangunnya Allah berfirman kepadanya agar dia berthawaf di rumah itu dan dikatakan, ‘Adam ikamu Manusia pertama dan ini adalah rumah pertama’. Selanjutnya masa terus berganti sampai nabi Nuh menunaikan haji, dan masa berganti lagi sampai pada Nabi Ibrahim meninggikan fondasinya”.(Adzim Irsad:127-128)
Dikisahkan oleh Atha’, Adam membangun rumah itu dari lima buah gunung, yaitu haro, Tursina, Libnan, Judy, dan Turzeta. Imam Mawardi menambahkan bahwa Adam membangun Baitullah seperti Ia lihat di ‘Arsy dengan dibantu Malaikat Jibril untuk memindahkan bebatuannya. Adam adalah orang pertama yang melakukan shalat dan Tawaf di sana.
Dalam kitab Al Ma’arif, ibnu Qutaibah menerangkan bahwa sepeninggal Adam, yang memakmurkan dan membangun Baitullah atau Ka’bah adalah Nabi shith, anak laki-laki nabi Adam, hingga Allah mendatangkan angin Topan yang menyebabkan lenyapnya bangunan Ka’bah tersebut, hanya tersisa fondasinya saja.(Zainur Rofieq: 69-70)
3.      Nabi Ibrahim dan Ismail
Sejarahnya bermula dari migrasi Ibrahim dari Irak, yang merupakan tanah kelahirannya. Pernikahannya dengan Sarah belum dikaruniai seorang anak hingga akhirnya ia dihadiahi seorang budak bernama Hajar.
Dari Hajar Ia melahirkan seorang anak yang bernama Ismail. Lalu, sarah memerintahkan mereka untuk hijrah, hingga kemudian sampai di sebuah tempat yang gersang dan kering kerontang. Setelah beberapa lama tinggal bersama keduanya, lalu Ibrahim meninggalkan mereka untuk kembali ke Palestina menemui Sarah dan putranya Ishaq.
Ketika Hajar dan Ismail berada dalam kekhawatiran, karena makin menipisnya persediaan makanan mereka. Ia meninggalkan tempat itu untuk melakukan jalan-jalan kecil dari shafa ke marwa, yang sekarang dijadikan ritual Sa’i.
Setelah menyelesaikan tujuh keliling, ia mendapatkan kaki Ismali menerjang-nerjang tanah hingga akhirnya dari tanah tersebut menyemburkan air. Sumber air tersebut disebut Zamzam.
            Menurut At Thabari, Allah telah mengutus malaikat untuk berkata kepada Hajar agar tidak khawatir, sebab suatu saat Ibrahim akan datang ke tempat tersebut, dan akan membuat sebuah rumah bersama anaknya. Rumah inilah yang kemudian disebut dengan ka’bah. (Zuhairi Misrawi 18-219)
Saat Ismail dalam proses pertumbuhan menjadi dewasa, ibrahim sering menjenguknya dari palestina. Sutu hari, nabi ismail diajak berdialok oleh nabi ibrahim, “sesungguhnya Allah telah menyuruhku untuk melakukan sebuah pekerjaan” Ismail kemudian menyahut, “ laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah”. “apakah engkau mau membantu?” tanya Ibrahim. Ismail menjawab, “aku siap untuk membantu”. “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini” sambil menunjuk sebuah bukit yang kini menjadi Masjidil Haram. (Zainur Rofieq:76-77)
Qatadah meriwayatkan tentang bahan-bahan yang merupakan bahan ka’bah didatangkan dari Harra’, libanon, Sinai dan Turnzeta. Sedangkan Suhail mengisahkan bahan-bahan tersebut didatangkan oleh malaikat. (Zuhairi Misrawi: 219)
Setelah membangun kembali fondasi yang sudah lama tidak dipelihara sepeninggal Shith, Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Rumah di atas fondasi itu. Ismail bertugas membawa batu dan Ibrahim yang menyusunnya. Ketika susunan Batu yang semakin meninggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk dipijak oleh Ibrahim. Batu inilah yang kemudian dinamakan Maqam Ibrahim.
Dikisahkan dalam kitab Tarikhul Ka’bah, karangan syiekh Ali Husni, ketika Ibrahim dan Ismail sampai pada penyelesaian akhir dari sudut( rukun)bangunan Bitullah, dan hanya tinggal satu bagian lagi yang belum tertutup, nabi Ibrahim kemudian berkata, “wahai anakku, ambillah satu batu yang bisa memberikan daya tarik bagi manusia.” Kemudian Ismail memberikan batu. Ibrahim berkata, “bukan batu seperti itu yang aku maksud”. Ismail pun mencari lagi batu yang dimaksud sang ayah. Saat Ismail sudah membawa batu temuannya, ternyata Nabi Ibrahim sudah memasangkan di bagian itu sebuah batu yang Ismail Tidak mengetahuinya. Kemudian Ismail bertanya kepada ayahnya,” wahai ayahku, siapakah gerangan yang membawa batu itu kepadamu?” Ibrahim menjawab, “ telah datang kepadaku malaikat jibril membawakan batu itu”. Batu itulah sekarang yang dikenal dengan Hajar Aswad. (Zainur Rofieq:76-78)
Pembangunan ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail juga dijelaskan dalam surat Al-Baqarah:127
وَاِذْ يَرْفَعُ إِبْراهِيمُ القَوَاعِدَ من البَيْتِ وإسمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا أنتَ السمِيْعُ العَليمُ
yang mempunyai arti:
“dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “ya Allah tuhan kami ! terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya engkaulah yang maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Adzim Irsad:126)
  Bentuk Baitullah pada masa Ibrahim dan Ismail:
a.       Tingginya Sembilan hasta
b.      Panjangnya dari hajar aswad sampai rukun syami adalah 32 hasta
c.       Lebarnya dari Rukun Syami sampai rukun gharbi adalah 22 hasta
d.      Panjangnya dari rukun gharbi sampai rukun yamani adalah 31 hasta
e.       Lebarnya dari rukun yamani sampai hajar Aswad adalah 20 hasta (Adzim Irsad: 132)
1.4  Pembangunan Ka’bah oleh suku-suku Arab
a.       Suku Amaliqah
Sepeninggal Nabi Ibrahim, dikisahkan Ka’bah pernah rusak dan pernah dibangun kembali oleh suku bangsa Amaliqah. Imam Mawardi menerangkan setelah dibangun oleh suku Amaliqah, dalam perjalanan waktu kemudian, Ka’bah terkena banjir besar dari dataran tinggi Mekkah yang mengakibatkan rusaknya dinding ka’bahmeskipun tidak roboh. Suku jurhumlah yang kemudian membangunnya kembali seperti sedia kala dengan menambah bangunan di luar ka’bah untuk penahan luapan air bila terjadi banjir kembali. (Zainur Rofieq:81)
b.      Qusay bin Kilab. Orang yang pertama kali merenovasi dari suku Quraisy. Dia membangun atap Baitullah dari kayu Dum dan pelepah kurma. A’syii bekata dalam sebuah syairnya dengan bahar thawil
خلفت بثوبي راهب الشام والتى: بناها قصى جده وابن جرهم.
“aku bersumpah demi dua pakaian pendeta syam dan demi ka’bah yang dibangun qusay, kakek, dan putra suku jurhum. (adzim irsad:133-134)
c.       Kaum Quraisy
Pembangunan di masa ini disebabkan ka’bah terkena api dan temboknya sudah mulai retak, serta sebab-sebab lainnya. Oleh karena itu, para petinggi Quraisy bersepakat untuk merenovasinya. Namun fondasinya tetap seperti semula yang dibangun Nabi Ibrahim.
Dalam renovasi itu terjadi insiden antar pemimpin besar mereka tentang siapa yang pertama kali meletakkan batu mulia hajar aswad. Namun khadiran Muhammad di tengah-tengah mereka mengubah suasana menjadi sejuk dan damai. (Adzim Irsad:135).
Karena perselisihan tidak bisa diredakan, mereka bermusyawarah membuat sebuah kesepakatan siapa yang pertama kali masuk Baitullah dari pintu Bani syaiba, dialah yang paling berhak untuk meletakkan hajar awsad. Dan kemudian beliaulah keluar sebagai pemenenag untuk meletakkan  hajar aswad itu, beliau memutuskan untuk melakukan bersama-sama agar masing-masing suku tetap merasa dihargai dan memiliki kewenangan yang sama. (Zainur Rofieq:82)
Saat itu bangsa Quraisy membangun enam tiang di dalam ka’bah dengan posisi dua jajar. Sejak masa pembangunan oleh suku Quraisy, bangunan asli ka'bah yang dibangun Nabi Ibrahim mengalami penyempitan hingga bentuknya seperti yang kita lihat sekarang. Penyempitan itu terjadi di daerah rukun syami sehingga membuat hijir ismail tidak lagi masuk dalam lingkaran ka’bah. (Zainur Rofieq:83)
d.      Abdullan bin Zubair
Pada zaman dinasti Mu’awiyah, bangunan ka’bah mengalami kebakaran lagi. Pada bulan Dzulhijjah tahun 64 H. Abdullah bin Zubair berinisiatif untuk membangun ka’bah. Inisiatif beliau menjadi polemik diantara mereka. Sebagian setuju dengan inisiatif ibnu Zubair karena kondisi ka’bah yang terkena api. Sedangkan sebagian lain menolak dan keluar ke Mina karena takut dengan Adzab Allah SWT. Setelah ibnu Zunbair melkukan shalat Istikharah, barulah ka’bah dirobohkan untuk dibangun kembali.
Adapun bentuk ka’bah setelah direnovasi tidak berubah, hanya saja sedikit lebih menarik dari sebelumnya. Setelah renovasi yang dilakukan Ibnu Zubair, pintu Baitullah yang tadinya satu, beliau menjadikannya dua pintu. Pintu yang pertama bagi yang memasuki ka’bah dan pintu yang kedua bagi yang keluar dari ka’bah. (adzim Irsad:136)
      Sekitar tahun 1039 H, turun hujan lebat di kota mekah. Banjir besar di masjidil haram tidak bisa dibendung lagi bahkan sampai mengakibatkan dinding rukun syami runtuh. Atas perintah sultan Murad Khan, kemudian ka’bah dibangun kembali, dan selesai pada tanggal 2 Dzulhijjah 1040 H. Pembangunan ini memakan waktu enam setengah bulan. Inilah pembangunan ka’bah terakhir hingga bentuknya seperti sekarang yang kita lihat. Pintunya dinaikkan ke atas, dan hijir Ismail tetap berada di luar bangunan kota Ka’bah. (Zainur Rofieq:87-88)
1.5  Kekuatan di sekitar Ka’bah
1.      Hajar Aswad
Hajar aswad merupakan sebuah batu dari surga yang disimpan di salah satu sudut ka’bah dan digunakan sebagai titik awal memulai thawaf. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “siapa pun menyentuhnya (hajar Aswad)maka sesungguhnya ia menyentuh yad arrahman azza wajalla” ( HR Abu Hurairah) (Zainur Rofieq:123)
2.      Multazam
Multazam merupakan area di dalam Masjidil Haram, yaitu di antara rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Ibnu Abbas berkata, “inilah Mutazam, di antara pintu ka’bah dan rukun (hajar aswad).
            Dalam sunan Abu Daud disebutkan bahwa Abdurrahman bin Sofwan mengatakan, ketika Rasulullah menaklukkan kota Makkah, aku mengenakan pakaianku lalu aku lihat Rasulullah beserta sahabat telah keluar dari Ka’bah. Mereka memegangi Baitullah mulai dari pintu hingga Hathim dan mereka pun meletakkan pipi mereka ke Baitullah, sementara Rasulullah berada di tengah-tengah mereka. (Zainur Rofieq:133)
3.      Maqam Ibrahim
Adalah batu bekas pijakan Ibrahim saat membangun Ka’bah bersama Ismail. Saat ini, maqam Ibrahim diabadikan dengan tembaga kuning dan ditempatkan tepat di depan pintu ka’bah (berjarak sekitar 10 meter dari pintu ka’bah)
            Abdullah bin Amr bin Ash menyatakan bahwa sesungguhnya rukun (hajar Aswad) dan maqam ibrahim merupakan bagian dari surga. (Zainur Rofieq:137-138)
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 125
وَإذْ جَعَلْنَا البَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وأَمْنَا واتَّخِذُوا من مَقَامِ إبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى وعَهِدْنَا إلَى إبْرَاهِيْمَ وإسْمَاعِيْلَ أنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ والعاكِفِيْنَ والرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan Ingatlah, ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan, telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku, dan yang sujud.”
(Zainur Rofieq:141)                                                           
4.      Hijir Ismail
Dinding pendek yang melingkar setengah lingkaran dan posisinya berada di sebelah utara ka’bah. Letaknya tepat di arah Syami. Hijir Ismail termasuk dari bagian ka’bah. Barang siapa yang ingin melaksanakan shalat dalam ka’bah, maka ia tinggal melaksanakannya di dalam setengah lingkaran hijir ismail itu. Dan ketika seang thawaf, hijir Ismail itu harus ikut dikelilingi sehingga jamaah tidak boleh memotong jalan untuk mempercepat putaran thawaf dengan lewat lorong-lorong Hijir Ismail.Aisyah berkata, “ aku ingin masuk ke dalam ka’bah untuk shalat di dalamnya lalu aku menarik Rasulullah dengan kedua tanganku, kemudian Rasulullah memasukkanaku ke dalam Hijir Ismail, dan bersabda “shalatlah di dalam Hijir jika memang engkau ingin memasuki Bitullah, sebab ia adalah bagian dari Baitullah, akan tetapi kaumu telah melakukan kecerobohan ketika mereka membangun ka’bah sehingga mereka mengeluarkannya dari Baitullah. (HR Bukhrari). (Zainur Rofieq:143-145)
5.      Kiswah Ka’bah
Kiswah adalah penutup atau “baju” Ka’bah. Yang pertama kali memberikan kiswah ini adalah Nabi Ismail. Namun ada pula yang mengatakan seorang pengusaha dari Yamanyaitu As’ad Al Humairi. Pada masa Islam, Rasulullahlah yang pertama kali menutupi Ka’bah dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah.
            Sejak kehancuran dinasti Abbasiyah, Kiswah Ka’bah dibuat di Mesir. Apalagi setelah Raja Shalih Ismail Qalawun sengaja membuka tiga perkampungan baru yang dikhususkan untuk pembuatan kiswah Ka’bah. Pada saat mesir dipimpin oleh Ali Basya, ia sengaja membuka kantor pemerintahan khusus urusan kiswah Ka’bah.
            Pada tahun 1924 M, barulah suplai kiswah ka’bah itu dihentikan dari Mesir dan pengerjaan kiswah diambil alih oleh raja Abdul Aziz dari Dinasti Saud. Ia juga membangun pabriknya di kota mekah. Pabrik kiswah di Mekah ini pertama kali menghasilkan kiswah pada tahun 1926 M.
            Kiswah terbuat dari bahan sutra murni dan dibei warna hitam. Disekelilingnya dirajut dengan tulisan arab Tsulusi berwarna kuning emas. Kiswah ini terdiri dari lima potong, empat potong pembungkus sisi-sisi ka’bah dan satu potong untuk penutup pintunya.
            Penggantian kiswah dilakukan setiap tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu saat semua jemaah Haji tengah melakukan wukuf di arafah. (Zainur Rofieq:160-162)

2.      AIR ZAM ZAM
Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zamzam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.(HR. At-Thabrani)
Zamzam adalah nama sumur yang terletak disebelah timur Hajar Aswad dan di sebelah selatan maqam Ibrahim saat ini[1]. Zamzam, dalam bahasa Arab artinya air yang melimpah dan dapat juga berarti minuman dengan regukan sedikit-sedikit. Dalam referensi lain dikatakan bermakna Al-katsrah wal ijtima’, artinya banyak, melimpah ruah. Dinamai zamzam karena airnya sangat melimpah, tidak akan surut selamanya dan airnya yang berkah[2]. Sumur ini, mengeluarkan air bersih Zamzam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu meminum air Zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air Zamzam kita menghadap ke Ka’bah dengan mengangkat kedua tangan sambil berdo’a kepada Allah[3].
2.1  Sejarah Air Zamzam
1.      Kisah Awal Mula Munculnya Air Zamzam
Tentang zamzam ini sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari isteri Nabi Ibrahim AS yaitu Siti Hajar dan putranyaNabi Ismail AS.Waktu Ismail dan Ibunya ditinggalkan olehNabi Ibrahim di Mekah, mereka kehabisan air untuk diminum. Maka Siti Hajar pergi ke bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Namun tidak berhasil menemukan setetes air pun.Tiba-tiba ia mendengar suara. Maka Siti Hajar pun berkata, ”saya mendengar suaramu, tolonglah aku jiaka engkau punya kebaikan”.
Kemudian malaikat jibril menampakkan diri dan melalui hentakan kaki Nabi Ismail, dengan serta-merta air memancar dari bumi.Siti hajar membendung air itu karen amelimpah ruah serta berkata “zam…zam…zam” yang maksudnya berkumpul-berkumpul. Air inilah yang kemudian terkenal dengan nama “sumur Zamzam” yang diriwayatkan oleh At-Tabrani dalamkitab Al-Mu’jamul Kabir dari Ibnu Abbas RA bahwa nabi Muhammad SAW bersabda, tentang air Zamzam yang artinya;
“sebaik-baiknya air di permukaan bumi ialah air Zamzam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapa tpenawar bagi penyakit”.
Setelah beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat mata air itu, setelah berita itu tersebar, datanglah dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus minta izin untuk memanfaatkan air itu dan jika diperbolehkan, maka mereka akan ikut tinggal di sekitarnya.
Maka Siti Hajar dengan senang hati menerima mereka dan akhirnya menjadi sekumpulan masyarakat baru di sekitar mata air Zamzam dan seterusnya menjadi sebuah kota yang amat ramai[4].
2.      Zamzam Sepeninggalan Nabi Ismail AS
Suku Jurhum senang tinggal di makkah karena terdapat air Zamzam yang jernih dan segar yang belum pernah mereka temukan. Sumur Zamzam telah menjadi penghidupan bagim ereka.Namun, keadaan itu membua tmereka lupa. Mereka menguasai sumur Zamzam secara paksa, bahkan berlaku zalim terhadap orang yang mengunjunginya. Mereka berani memakan harta yang dihadiahkan untuk Baitullah dan merampas harta benda orang lain yang hidup di sekitarnya[5].
Seiring dengan sikap dan perilaku kabilah Jurhum yang semakin brutal, sedikit demi sedikit sumber air Zamzam mengecil. Sampai pada akhirnya, sumber air Zamzam tertutup sama sekali karena banyaknya persembahan berupa patung seta baranga-barang yang terbuat dari emas yang dimasukkan oleh suku Jurhum ke dalam sumur Zamzam.
Sumur Zamzam menghilang disebabkan karena perilaku Jurhum yang menimbulkan petaka bagi kaumnya dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Sampai suatu ketika terjadi peperangan antara Jurhum dan Bani Khuza’ah yang berakhir dengan terusirnya suku Jurhum dari Baitullah.
3.      Penggalian Zamzam oleh Abdul Muththalib
Zamzam mulai digali lagi pada masa Abdulmuththalib, kakek Rasulullah SAW. Pengalian tersebut sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW dan berdasarkan pada mimpi Abdul Muththalib. Suatu ketika beliau tertidur. Tiba-tiba ada perintah yang mengatakan, ”galilah thibah” beliau pun bertanya, “apa thibah itu?” setelah berulang kali ada suara yang memerintahkan, “galilah Zamzam!” Dia bertanya lagi “apa itu Zaamzam?” suara itu menjawab tidak akan berhenti selamanya dan tidak akan terputus untuk memberi minum jamaah haji yang mulia”
Pada mulanya penggalian sumur itu dicegah oleh orang-orang Quraisy, karena lokasinya dekat dengan tempat dua berhala, Asaf dan Nailah, yang dipuja orang Quraisy dengan menyembelih kurban di dekatnya. Tetapi Abdul Muttalib tetap bersikeras melakukan penggalian sesuai dengan petunjuk mimpinya, hingga orang Quraisy membiarkannya. Dalam sumur itu ditemukan dua patung kijang dari emas beberapa buah pedang dan perisai. Kemudian pedang dan kijang emas itu dilebur dan dibuat pintuKa’bah[6].
Ketika tempat yang ditentukan sudah jelas, beliau memulai mencoba untuk menggalinya.Tempat Zamzam yang ditunjukkan ternyata sangat kering, seolah-olah tidak ada sumber air di dalamnya. Penggalian terus dilakukan walaupun banyak dari para penggali yang meninggal dunia. Sampai akhirnya Abdul Muththalib hampir putusasa, kemudian beliau bernadzar. Penggalian itu pun sempat terhenti beberapa tahun[7].
Setelah beberapa tahun penggalian sumur Zamzam terhenti, Abdul Muththalib melanjutkan penggaliannya, dan atas Ridha Allah mata Air Zamzam berhasil mengalir kembali. Selanjutnya sumur zamzam berada di bawah pengawasan Abdul Muttalib dan keturunannya dari Bani Abdul Manaf. Lalu air zamzam ini disediakan untuk air minum orang-orang yang brkunjung ke makkah[8].
2.2  Zamzam Sekarang ini
Sumur Zamzam yang terletak di dalam Masjidil Haram menjadi pekerjaan barubagi Kerajaan Arab Saudi. Untuk mempermudah pelayanan terhaap Jamaah Haji, pada tahun 1415 dibentuk kantor urusan Zamzam. Kantor ini secara khusus mengatur akomodasi dan aliran air Zamzam, mulai membangun tangki sampai pada persiapan air Zamzam untuk para jamah Haji. bahkan, sampai pengiriman keseluruh daerah di Arab Saudi, khususnya di masjid-masjid[9].
Padamulanya Kerajaan Arab Saudi menjadikan sumur Zamzam berada di bawah tempat Thowaf, agar para jamaah lebih leluasa untuk minum dan wudhu.Namun, seiring setiap tahun para jamaah haji bertambah dan tempat thawaf semakins empit. Maka, pada tahun 1984 sumur Zamzam ditutup untuk perluasan tempat thawaf. Kemudian mengalirkan Air ke Pabrik pengolahan Air Zamzam yang terletah 4 KM dari Masjidil Haram.
C.     KESIMPULAN
1.      Baitullah disebut ka’bah karena dua alasan; pertama, karena bentuknya yang persegi empat, dan kedua, karena ditinggikannya bangunannya. Ka’bah secara istilah adalah rumah Allah yang suci.
2.      Nama Ka’bah dalam Al-Qur’an:  Baitullah (Rumah Allah), Ka’bah, Al- Baitul Atiq (Rumah Pusaka), Baitul Haram, Al-Bait, Qiblah.
3.      Para Ulama ahli tarikh (ahli sejarah) memiliki beragam pendapat tentang siapa yang pertama kali membangun ka’bah. Ada yang mengatakanmalaikat, ada yang mengatakan nabi Adam, ada yang mengatakan nabi shith, anak nabi adam. Ada juga yang mengatakan Nabi Ibrahim. Begitu juga beragam pendapat tentang berapa kali ka’bah direnovasi, ada yang mengatakan lima kali, sepuluh kali, dan adapula yang mengatakan sebelas kali mengalami renovasi.
4.      Kekuatan di sekitar ka’bah:
1.      Hajar Aswad
2.      Multazam
3.      Maqam Ibrahim
4.      Hijir Ismail
5.      Kiswah Ka’bah


5.      Mata Air Zamzam muncul ketika Siti Hajar dan putranyaNabi Ismail kehausan karena ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tanahMakkah atas perintah Allah.
6.      Dalam sejarahnya mata air Zamzam telahbeberapa kali digali, baik karena tertibun maupun karena perbaikan, yang pertam kali dilakukan oleh Abdul Muthalib, kakek Rasulullah pada zaman Jahiliah dan terakhir adalah yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi pada awal tahun 1984 M[10].



DAFTAR PUSTAKA
Adzim Irsad, Abd. 2009.Makkah: Keajaiban dan Keagungan.  Jogjakarta: A+PLUS BOOKS.
Bin Shalih bin Ibrahim, Ahmad.2008.Kisah Kota Makka I. Surabaya: Pustaka.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. 1997. Ensiklopedi Islam. Jakarta: IchtiarBaru Van Hove. Cet: 4.
Gayo, Iwan. 2000.Buku Pintar Haji &Umrah. Jakarta: PustakaWarga Negara. Cet:14
Misrawi, Zuhairi. 2009. Mekkah Kotasuci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim. Jakarta: Kompas
Rofieq, Zainur. 2008. Mukjizat Ka’bah. Jakarta: Qultum Media cet: 2




[1] Ahmad bin Shalih bin Ibrahim, 2008, Kisah Kota Makkah, Surabaya: Pustaka, hal: 206
[2]Ensiklopedi Islam/ penyusun, DewanRedaksiEnsiklopedia Islam- Cetakan ke-4- JAKARTA: IchtiarBaru Van Hove, 1997 halaman 23
[3]IwanGayo, 2000, BukuPintar Haji &Umrah, Jakarta: PustakaWarga Negara, Cet:14, Hal: 370
[4]IwanGayo, 2000, BukuPintar Haji &Umrah, Jakarta: PustakaWarga Negara, Cet:14, Hal: 371
[5]Abd.AdzimIrsad, 2009, Makkah: KeajaibandanKeagungan, Jogjakarta: A+PLUS BOOKS, hal. 152
[6]Ensiklopedi Islam/ penyusun, DewanRedaksiEnsiklopedia Islam- Cetakan ke-4- JAKARTA: IchtiarBaru Van Hove, 1997 halaman 23
[7]Abd.AdzimIrsad, 2009, Makkah: KeajaibandanKeagungan, Jogjakarta: A+PLUS BOOKS, hal. 153
[8]Ensiklopedi Islam/ penyusun, DewanRedaksiEnsiklopedia Islam- Cetakan ke-4- JAKARTA: IchtiarBaru Van Hove, 1997 halaman 23
[9]Abd.AdzimIrsad, 2009, Makkah: KeajaibandanKeagungan, Jogjakarta: A+PLUS BOOKS, hal. 172

[10]IwanGayo, 2000, BukuPintar Haji &Umrah, Jakarta: PustakaWarga Negara, Cet:14,Hal: 372

1 komentar: