BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Membahas dan
menelaah sastra yakni seperti mengkaji alam semesta dan peradaban dunia, secara
definitif sastra dimaknai suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. (Rene
Wellek dan Austin Warren, 1989: 3). Begitu
juga bila kita mengkaji mengenai sastra pada masa modern akan sangat jauh
berbeda dengan sastra pada masa sebelumnya. Melihat berbagai faktor dan
karakter yang melingkupinya. Itu terbukti ada banyaknya sastrawan Arab yang
bermigrasi atau berdiaspora ke berbagai negara, terutama ke negara-negara Barat
untuk menghasilkan karya-karya sastranya.
Ada banyak sekali perbedaan bila kita kaji secara mendalam mengenai
karya-karyanya, karena sastra diapora adalah percampuran antara konsep sastra
Arab dengan sastra Barat yang ini dapat diketahui dari karya-karya yang
dihasilkan, seperti karya-karya beberapa sastrawan Arab migran dan keturunannya
semisal Khalil Gibran yang terkadang mengekspresikan karya sastranya dengan
bahasa Inggris, sehingga berimplikasi pada keragaman model pendekatan kritik
sastra yang digunakannya dalam mengkaji suatu karya sastra[1].
Oleh karena itu akan menarik sekali bila kita kaji dan bahas secara
mendalam tentang pengertian sastra diaspora, apa saja faktor-faktor penyebab
terjadinya sastra diaspora, bagaimana karakteristik karya sastra diaspora, yang
kemudian nanti kita dapat mengetahui dan memahami sejarah perkembangan sastra
diaspora secara utuh dan komprehensif.
1.2
Rumusan Masalah
Dalam
makalah ini akan dibahas dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa
pengertian Adab al-Mahjar (sastra diaspora)?
2.
Apa
faktor-faktor penyebab terjadinya Adab al-Mahjar (sastra diaspora)?
3.
Apa
saja sarana-sarana pengembangan dan karakteristik karya Adab al-Mahjar (sastra
diaspora)?
1.3
Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan makalah ini
dapat kita bagi dalam dua tujuan besar yaitu Main Purpose (tujuan umum) dan Special
Purpose (tujuan khusus). Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah
mahasiswa dapat mengetahui dan memahami dengan seksama mengenai pengertian
sastra diaspora, perkembangan sastra diaspora, sarana pengembangan sastra Arab
diaspora dan bagaimana karakteristiknya, sehingga nantinya dapat dijadikan
referensi untuk berfikir secara logis serta dapat mengambil kesimpulan dengan obyektif.
Sedangkan tujuan khusus dari penulisan malakah ini adalah sebagai berikut:
1.
Pembaca
dapat mengetahui dan memahami pengertian Adab al-Mahjar (sastra diaspora).
2.
Pembaca
dapat mengetahui dan memahami faktor-faktor penyebab terjadinya Adab al-Mahjar
(sastra diaspora).
3.
Pembaca
dapat mengetahui dan memahami sarana-sarana pengembangan dan karakteristik karya
Adab al-Mahjar (sastra diaspora).
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora) dan
Perkembangannya
Kata diaspora sebenarnya diambil dari peristilahan tentang
orang‐orang etnis manapun yang berpindah tempat atau meninggalkan tanah
air etnis tradisional mereka, atau penyebaran mereka di berbagai bagian lain di
dunia dan perkembangan yang dihasilkan dari penyebaran dan budaya mereka. Hal
ini tidak terjadi bagi bangsa Arab saja, tetapi bahkan peristilahan ini pada
mulanya diperuntukkan oleh orang‐orang
Yunani yang bermigrasi ke wilayah jajahan tertentu dengan maksud kolonisasi
untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan[2].
Dan juga, peristilahan itu
diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi yang berada dalam perantauan. Seperti
dalam kamus Easy Lingo Dictionary kata diaspora dimaknai:
1). Diaspora atau penyebaran suatu bangsa dan mereka menetap di
negara lain,
2). Orang Yahudi yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Begitu pula dalam (Hans
Wehr, 1974: 1019), kata mahjar artinya: place of emigration,
yaitu tempat emigrasi. Dari sini ini, dapat dikatakan bahwa mahjar
berkaitan dengan tempat domisili perantauan bagi orang‐orang yang bermigrasi. Kata tersebut bila dikaitkan dengan kata adab
mahjar berarti merupakan karya sastra rantauan orang Arab atau orang Arab
imigran yang berada di negara non Arab yang kemudian menciptakan karya sastra.
Dalam histori adab araby, sebenarnya sebutan adab al-mahjar
adalah dinisbatkan kepada orang-orang Arab Syam (Syiria) termasuk Libanon yang
bermigrasi ke Amerika yaitu Amerika Serikat maupun Amerika Selatan pada sekitar
tahun 1913 M dan kemudian menetap di negara benua tersebut yaitu di Boston, New
York, dan di Sau Paolo Brazil. (Abidin, 2001: 253).
Sekilas tentang peristilahan mahjar yang terambil dari kata hajara
berarti adalah orang‐orang
Arab yang berpindah tempat menempati tempatbaru di luar negara Arab (negara
yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai alat penuturnya). Di dalam
keterasingan dan kerinduan terhadap tanah airnya, pengalaman kelam dan pengaruh
eksternal lainnya, mereka menciptakan karya sastra yang mempunyai karakteristik
baru dari karya sastra arab klasik.
Boosahda (dalam Atho’illah, 2008: 203)
menjelaskan bahwa puncak imigrasi orang Arab dari ke wilayah Amerika
terjadi mulai tahun 1880-1920 an. Kebanyakan dari mereka berusia mulai dari
kanak-kanak hingga tiga puluh lima tahun. Selain itu, mereka datang dari
berbagai macam profesi, dari mulai pedagang, montir, petani, penulis dan ada
juga yang pergi dengan berbekal spekulasi.
2.2 Faktor -Faktor Penyebab Terjadinya Adab al-Mahjar (Diaspora)
Peristiwa perpindahan penduduk atau suatu bangsa tertentu pasti ada
faktor yang melatarbelakanginya, baik itu secara ekonomi, politik atau
kultural, bahkan karena bencana alam. Seperti halnya menyebarnya etnik Yahudi
sebelum terbentuknya negara Israel pada tahun 1948, mereka menempati di beberapa
negara benua Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris dan lain-lain, juga di
Amerika, dan beberapa negara Arab. Hal ini lebih disebabkan pada saat itu etnik
tersebut belum mempunyai negara untuk bersatu, bahkan banyaknya kasus ras dan
diskriminasi menyebabkan mereka bermigrasi mencari tempat perlindungan yang
aman, dan tempat untuk memenuhi kebutuhan.
Sastra diaspora
pada hakikatnya terjadi karena beberapa faktor, diantaranya yaitu:
- Beberapa bangsa Afghanistan yang
meninggalkan negara mereka sepanjang abad ke-20 karena perang saudara yang
berkepanjangan.
- Migrasi beberapa orang Palestina karena
perang bangsa Arab dan Israel sejak tahun 1948.
- Diaspora orang-orang Indonesia khususnya
orang suku Jawa yang dibawa oleh Belanda ke Suriname sebagai pekerja
perkebunan Belanda.
- Diaspora orang-orang Tionghoa dan beberapa
bangsa lain di negara negara Asia Tenggara, Eropa bahkan Amerika.
- Diaspora orang-orang Arab dan kini menetap
di Australia, beberapa negara Eropa Barat dan Amerika (baik Utara
maupun Selatan).
- Membebaskan diri dari tekanan politik.
- Berkomunikasi dengan para misionaris yang
memberikan harapan baru dalam kehidupan.
- Mencari penghidupan yang lebih baik.
- Kecenderungan penduduk Arab Syam (Syiria)
yang suka bermigrasi.[3]
10.
Bangsa
Chechen yang meninggalkan Chechnya pada akhir abad ke 20 karena pemberontakan.
11.
Diaspora
Afrika Selatan terutama tradisi para imigran Afrika selatan, khususnya warga
kulit putih berbahasa Afrika yang meninggalkan negaranya karena sejumlah
alasan. Ada pula kelas menengah kulit hitam yang bertambah di Afrika Selatan,
banyak diantaranya juga mulai berimigrasi, hingga menambahkan beban demografi
warga Afrika Selatan di luar negeri. Warga Afrika selatan umumnya menetap di
Britania Raya, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru dan Kanada.
12.
Diaspora
bangsa Tibet yang di mulai pada tahun 1959 ketika Tiongkok menyerang dan
mengusir rakyat Tibet.
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa faktor penyebab
terjadinya sangat beragam, dilihat dari berbagai aspek yang menyebabkan mengapa
para sastrawaan bermigrasi atau berdiasopora ke berbagai tempat atas dasar
mempertahankan diri, mencari kehidupan yang lebih baik, dan faktor-faktor yang
lain.
Selain itu juga, sastrawan diaspora juga ingin karya-karyanya tidak
hanya dinikmati di negeri sendiri, yakni di kalangan Arab saja. Tapi ingin
mempublikasikan karyanya agar dinikmati dan diapresiasi di kancah
internasional, terutama di kalangan dunia Barat, seperti Eropa dan Amerika.
2.3. Sarana
Pengembangan dan Karakteristik Karya Sastra Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora)
2.3.1 Sarana Pengembangan Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora)
Orang-orang
Arab berusaha untuk selalu mengenang negeri, budaya, dan bahasanya
melalui karya sastranya. Dengan latar belakang pengalaman sosial, spiritual dan tercampurnya budaya timur dan budaya barat mereka
mempunyai rasa tersendiri dalam
menciptakan karyanya walaupun komunitas terbatas di negara rantauan. Momentum berbesar setelah Perang Dunia I adalah
munculnya kelompok- kelompok sastrawan
diantaranya. (Atho’illah, 2008: 214).
Beberapa sarana pengembangan sastra Adab al-Mahjar,
diantaranya yaitu:
1.
Karena
mereka berada dalam komunitas yang terbatas di negara rantauan dan juga
sulitnya karya sastra mereka terpublikasi maka mereka membentuk beberapa
organisasi jurnalistik sebagai media yang mewadahinya seperti:
a. Al-Rabithah al-Qolamiyah dan Jami’ah
al-Adab al-Araby dibentuk pada tahun 1920, berpusat di Amerika Utara. Kelompok ini
terbentuk tahun 1920 di New York yang dipelopori oleh Gibran Kahlil Gibran.
Mereka mempunyai tujuan untuk mengkonstribusikan dalam pembaharuan karya sastra
bagi imigran Arab di Amerika Utara. Sastrawan dalam kelompok ini diantaranya
adalah Kahlil Gibran, Mikhail Naimy, Elia Abu Madi, Nasib ‘Arib, Amin
Al-Rihani, Rasyid Ayyub, dan Ilyas ‘Attallah. Para sastrawan tersebut
menerbitkan karya satra mereka di majalah “al-Sa’ih” yang terbit setiap tahun. Abidin (2001: 254)
mengatakan selain itu juga ada kelompok lain bernama “Jami’ah al-Adab al-Araby’’.
b. Al-Ushbah al-Andalusiah, dibentuk sejak tahun 1933 yang berada di
Sao Paolo Brazil (diaspora Arab di Amerika Selatan). Kelompok ini
terbentuk tahun 1933 di Sao Paolo Brazil yang dipelopori oleh Syukrullah
al-Jarr. Mereka cenderung melestarikan sastra Arab dengan mempertimbangkan
aspek diksi dan penggunakan bahasa sesuai kaidahnya. Sastrawan dalam kelompok
ini diantaranya Syukrullah al-Jarr, Mikhail al-Ma’luf, Rasyid al-Khuri, Ilyas
Farhat dan Najib Ya’kub. Kelompok ini telah menerbitkan majalah yang terkenal
dengan nama Majallah al-‘Usbah (Abidin, 2001: 254).
2.3.2
Karakteristik Karya Adab al-Mahjar (Sastra Diaspora)
Karakteristik
sastra Arab al-Mahjar tidak terlepas dari pengaruh pengalaman hidup para
sastrawannya baik secara politis, religius, sosiologis bahkan psikologis yang
banyak mempengaruhi karya sastra arab diapora. Diantaranya faktor-faktor yang
mempengaruhi dan merupakan suatu realitas yang dialami mereka, yaitu:
a. Budaya timur
dengan berbagai tradisi, kebiasaan, pandangan hidup dan obsesinya dimana ia
hidup bermigrasi.
b. Pengetahuan dan
kajiannya yang luas tentang karya klasik arab, serta pengalaman kulturnya.
c. Rasa rindu
terhadap negerinya yang penuh dilema baik politik maupun sosial.
d. Pemahaman,
kemahiran, pengetahuan dan emosinya yang baik terhadap bahasa asing.
e. Pengaruh
kebebasan, kemajuan budaya, sosial, politik negeri yang baru ditempatinya. (Hambali:
2009).
Selain itu, dapat diketahui di referensi lain mengenai
karakteristik karya sastra diaspora, diantaranya yakni:
1.
Tidak
terlepas dari pengaruh pengalaman hidup para sastrawannya baik
secara politis, religius, sosiologis bahkan psikologis.
2.
Banyak
terpengaruh oleh karya sastra Barat.
- Muncul bentuk baru yang cenderung bebas yakni al-Syi’r al-Hur atau al-Mursal (bebas
sajak dan wazan), dan al-Syi’r al-Mantsur (bebas wazan tetapi terkadang masih
bersajak).[4]
- Banyak memberi pengaruh terhadap
perkembangan sastra Arab masa modern.
Di referensi
lain disebutkan bahwa sastrawan diaspora sama sekali tidak menerima ‘arudl, baik wazan (musikalitas) maupun qafiyah
(sajak), tidak terikat oleh aturan klasik, atau bergaya prosa liris,
seperti Kahlil Gibran. (Muzakki, 2011: 142).
Maka
dapat diketahui dari penjelasan tersebut, bahwa karakteristik karya sastra pada
hal ini memberikan alternatif akulturasi dua budaya yaitu budaya negeri asal
mereka dan budaya negara baru yang ditempatinya dan memberikan warna baru dalam
bentuk budaya dan corak karya sastra baru. Sebagaimana diketahui bahwa sejak
adanya perkembangan ilmu sastra khususnya kritik sastra, maka sebuah karya
sastra akan mendapat penilaian bahkan kajian dari berbagai pendekatan yang intinya
akan dapat memberikan suatu penilaian terhadap sebuah karya sastra walaupun
boleh dikatakan bahwa karya sastra itu merupakan bagian dari seni yang medianya
bahasa yang bersifat individualistik dan otonom.
Konstruk dalam karya sastra dan
berkembangnya ilmu sastra yang terkadang mengesampingkan keindahan bahasa
sastra, sering sekali memandang karya sastra dari segi isi dan pesan yang
dimuat oleh karya sastra. Terlepas dari model pendekatan, obyek kritik sastra
yang komplek disini akan mencoba menganalisa secara historis fakta dan
pengalaman kaum diaspora Arab yang mempunyai keistimewaan dan sekaligus
kekurangan.
BAB
III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah dipaparkan oleh pemakalah pada
pembahasan makalah ini, maka dapat kita simpulkan bahwa:
1.
Kata
diaspora sebenarnya diambil dari peristilahan tentang orang‐orang etnis manapun yang berpindah tempat atau meninggalkan tanah
air etnis tradisional mereka, atau penyebaran mereka di berbagai bagian lain di
dunia dan perkembangan yang dihasilkan dari penyebaran dan budaya mereka. Hal
ini tidak terjadi bagi bangsa Arab saja, tetapi bahkan peristilahan ini pada
mulanya diperuntukkan oleh orang‐orang
Yunani yang bermigrasi ke wilayah jajahan tertentu dengan maksud kolonisasi
untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan.
2. Sastra diaspora pada
hakikatnya terjadi karena beberapa faktor, diantaranya yaitu: 1). Beberapa bangsa Afghanistan yang
meninggalkan negara mereka sepanjang abad ke- 20
karena perang saudara yang berkepanjangan, 2). Migrasi beberapa orang Palestina
karena perang bangsa Arab dan Israel
sejak tahun 1948, 3). Diaspora orang-orang Indonesia
khususnya orang suku Jawa yang dibawa oleh Belanda ke Suriname sebagai pekerja
perkebunan Belanda, 4). Diaspora orang-orang Tionghoa dan bangsa lain di negara negara Asia Tenggara, Eropa bahkan Amerika, 5). Diaspora orang-orang Arab dan kini menetap
di Australia, beberapa negara Eropa Barat dan Amerika (baik Utara maupun Selatan),
6). Karena mereka berada dalam komunitas
yang terbatas di negara rantauan dan juga sulitnya karya sastra mereka terpublikasi, maka mereka membentuk beberapa organisasi jurnalistik
sebagai media yang mewadahinya seperti: Al-Rabithah al-Qolamiyah, Jami’ah al-Adab al- Araby, dan Al-Ushbah al- Andalusiah
3. Karakteristik sastra Arab al-Mahjar tidak
terlepas dari pengaruh pengalaman hidup para
sastrawannya baik secara politis, religius, sosiologis bahkan psikologis yang banyak mempengaruhi karya sastra arab diapora. Diantaranya
faktor-faktor yang mempengaruhi dan merupakan suatu realitas yang
dialami mereka, yaitu: Budaya timur dengan berbagai tradisi,
kebiasaan, pandangan hidup dan obsesinya dimana
ia hidup bermigrasi, Pengetahuan dan kajiannya yang luas tentang karya klasik Arab,
serta pengalaman kulturnya, Rasa rindu terhadap negerinya yang penuh dilema
baik politik maupun sosial, Pemahaman,
kemahiran, pengetahuan dan emosinya yang baik terhadap bahasa asing, dan
Pengaruh kebebasan, kemajuan budaya, sosial, politik negeri yang baru ditempatinya.
3. 2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini, kami
merasa masih banyak kesalahan baik secara teknis penulisan maupun dari segi
materi yang kami paparkan. Namun, dari itu kita juga tidak boleh memandang
semua yang serba kurang itu buruk, bisa jadi dari kekurangan itulah kita bisa
menjadi yang lebih baik.
Oleh karena itu, penulis berharap
agar makalah ini bisa digunakan sebagaimana mestinya. Terakhir, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca semua untuk kesempurnaaan makalah
ini maupun sebagai bahan evaluasi untuk makalah yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,
Ibrahim, dkk. 2001. Al-Adab wa An-Nushush. Kuwait: Wizarah Tarbiyah. Atho’illah,
Ahmad. 2008. Sejarah Perkembangan Masyarakat & Sastra Diaspora Arab-Amerika
Adabiyyat,7(2).(Online),(http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/7208201222.pdf), diakses
pada tanggal 3 Mei 2014, pukul
13.43 WIB.
Hambali, Gufron. 2008. Perkembangan dan
Karakteristik Adab Mahjar (Sastra Arab Diaspora). 1(2).
(Online), (http://www.jurnallingua.com/edisi-2008/13-vol-1-no- 2/59- perkembangan-dan-karakteristik-adab-mahjar-sastra-arab-diaspora.html), diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.
Hambali, Gufron. 2009. Perkembangan dan Karakteristik Adab Mahjar
(Sastra Arab Diaspora), (Online),
http://jurnallingua.blog.com/2009/01/10/adab-mahjar-sastra- arab- diaspora/, diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.45 WIB.
Ifada, Amaria,
dkk. 2012. (Online), mariavada.blogspot.com/2013/11/sejarah-sastra-arab-pada- masa- modern.html,
diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul
14.22 WIB.
Muzakki, Ahmad.
2011. Pengantar Teori Sastra Arab. Malang: UIN Maliki Press.
Qubatsir,
Ahmad. tt. Tarikh al-Syi’ir al-Araby Al-Hadits. Beirut: Dar al-Jayl.
Ridho, Miftah Thariq,
dkk. 2014. “Kesusastraan Modern”, (Online), http://www.slideshare.net/touriquekalashnikov/kesusastraan-arab-modern, diakses pada
tanggal 5 Mei 2014, pukul 17.00 WIB.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
[1] Gufron Hambali. 2008. “Perkembangan dan Karakteristik
Adab Mahjar (Sastra Arab Diaspora)”. 1(2), dalam (http://www.juranallingua.com/edisi-2008/13-vol-1-no-2/59-perkembangan-dan-karakteristik-adab-mahjar-sastra-arab-diaspora.html),
diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.
[2] Gufron Hambali. 2008. “Perkembangan
dan Karakteristik Adab Mahjar (Sastra Arab Diaspora”). 1(2) dalam (http://www.jurnallingua.com/edisi-2008/13-vol-1-no-2/59-perkembangan-dan-karakteristik-adab-mahjar-sastra-arab-diaspora.html),
diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.
[3]Miftah Thariq, dkk. “Kesusastraan Modern”, dalam http://www.slideshare.net/touriquekalashnikov/kesusastraan-arab-modern, diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.
[4]Miftah Thariq, dkk. “Kesusastraan Modern”, dalam http://www.slideshare.net/touriquekalashnikov/kesusastraan-arab-modern, diakses pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 13.43 WIB.