Mediaku Kanal Kekuasaannya
Oleh: Qoniatu
Saadah
Bicara media, tentunya sudah tidak
asing lagi bagi setiap orang. Karena media merupakan wujud konkrit dari sarana
komunikasi antar warga baik audio dan atau visual maupun lisan dan tulisan.
Media saat ini sudah menjamur dan bebas bergerak dalam produktifitasnya.
Media tidak akan terlepas dari dunia
jurnalistik. Karena dua kata tersebut tidak akan bisa dipisahkan dan berdiri
sendiri. Stasiun TV, surat kabar, wartawan, jurnalis, adalah satu kesatuan
dalam media.
Tetapi, tentunya ada satu penggerak
yang memproduserinya, yang
menjadi penggerak utama dan paling berkuasa dalam media itu, yakni pemilik
media itu sendiri.
Di Indonesia sudah menjadi rahasia
umum jika hampir semua media dikuasai oleh perseorangan. Misalnya saja ANTV
TVONE VIVANEWS dimiliki Abu rizal bakrie, MNC TV RCTI GLOBAL TV oleh Hary Tanoe
S, TRANS TRANS 7 Oleh Chairil Tanjung, METRO TV Oleh Surya Paloh, dan masih
banyak lagi.
Fenomena tersebut menjadikan media
sebagai kanal kekuasaan politik para pemiliknya. Lihat saja tayangan-tayangan
televisi yang banyak menayangkan acara orasi politik dan kepentingan pribadi
pemiliknya. Iklan NASDEM milik Surya paloh dan Hary Tanoe di RCTI 127 iklan,
MNC TV 112, GLBAL 111, METRO 43 iklan, GOLKAR milik ARB 34 iklan, dll.
Bahkan tak ayal banyak acara mereka yang
saling menjatuhkan media satu dengan yang lain. (lihat film di balik frekuensi)
Fenomena ini juga berdampak pada
keprofesionalan para jurnalis pada berita atau laporan yang dibuatnya. Selain
itu juga menjadikan media sudah tidak lagi independen. Dan hal ini kesalahan
paling fatal dalam Media.
Dampak fenomena tersebut juga
menjadikan pemilik media sangat berkuasa dan semena-mena. Lihat saja kasus
Luviana. Seorang assisten produser stasiun TV swasta dipecat dan dianggap
melakukan disharmoni pada perusahan dia bekerja.
Ada lagi
kasus hary Suwandi. Seorang korban lumpur lapindo yang berjalan kaki kurang
lebih selama 29 hari dari sidoarjo ke Jakarta. Untuk menuntut keadilan dang
anti rugi. Tetapi sesampainya di Jakarta, pada acara berita salah satu Tv
swasta milik Bakrie Group, Hary Suwandi mengingkari niat awalnya. Dia malah
meminta maaf dan mengagung-agungkan ARB yang notabennya pemilik perusahaan
Lapindo. (lebih Jelas Lihat Film Di Balik Frekuensi Oleh Ucu Agustin)