Sabtu, 07 Desember 2013



Mediaku Kanal Kekuasaannya
Oleh: Qoniatu Saadah
Bicara media, tentunya sudah tidak asing lagi bagi setiap orang. Karena media merupakan wujud konkrit dari sarana komunikasi antar warga baik audio dan atau visual maupun lisan dan tulisan. Media saat ini sudah menjamur dan bebas bergerak dalam produktifitasnya.
Media tidak akan terlepas dari dunia jurnalistik. Karena dua kata tersebut tidak akan bisa dipisahkan dan berdiri sendiri. Stasiun TV, surat kabar, wartawan, jurnalis, adalah satu kesatuan dalam media.
Tetapi, tentunya ada satu penggerak yang memproduserinya,  yang menjadi penggerak utama dan paling berkuasa dalam media itu, yakni pemilik media itu sendiri.
Di Indonesia sudah menjadi rahasia umum jika hampir semua media dikuasai oleh perseorangan. Misalnya saja ANTV TVONE VIVANEWS dimiliki Abu rizal bakrie, MNC TV RCTI GLOBAL TV oleh Hary Tanoe S, TRANS TRANS 7 Oleh Chairil Tanjung, METRO TV Oleh Surya Paloh, dan masih banyak lagi.
Fenomena tersebut menjadikan media sebagai kanal kekuasaan politik para pemiliknya. Lihat saja tayangan-tayangan televisi yang banyak menayangkan acara orasi politik dan kepentingan pribadi pemiliknya. Iklan NASDEM milik Surya paloh dan Hary Tanoe di RCTI 127 iklan, MNC TV 112, GLBAL 111, METRO 43 iklan, GOLKAR milik ARB 34 iklan, dll. Bahkan  tak ayal banyak acara mereka yang saling menjatuhkan media satu dengan yang lain. (lihat film di balik frekuensi)
Fenomena ini juga berdampak pada keprofesionalan para jurnalis pada berita atau laporan yang dibuatnya. Selain itu juga menjadikan media sudah tidak lagi independen. Dan hal ini kesalahan paling fatal dalam Media.
            Dampak fenomena tersebut juga menjadikan pemilik media sangat berkuasa dan semena-mena. Lihat saja kasus Luviana. Seorang assisten produser stasiun TV swasta dipecat dan dianggap melakukan disharmoni pada perusahan dia bekerja.
            Ada lagi kasus hary Suwandi. Seorang korban lumpur lapindo yang berjalan kaki kurang lebih selama 29 hari dari sidoarjo ke Jakarta. Untuk menuntut keadilan dang anti rugi. Tetapi sesampainya di Jakarta, pada acara berita salah satu Tv swasta milik Bakrie Group, Hary Suwandi mengingkari niat awalnya. Dia malah meminta maaf dan mengagung-agungkan ARB yang notabennya pemilik perusahaan Lapindo. (lebih Jelas Lihat Film Di Balik Frekuensi Oleh Ucu Agustin)